PRATIKUM
KE V
OSMOSIS
Oleh
Syahirul
Alim (1512220022)
Dosen
Pembimbing
Irham
Falahudin,M.Si
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGRI ( UIN ) RADEN FATAH
PALEMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Osmosis
merupakan perpindahan zat dari daerah yang memiliki konsentrasi rendah
hipotenik kedaerah yang memiliki konsentrasi tinggi hipertonik mealaui mambran
semiplasmeabel. Yang memliki perbedaan konsentrasi dengan zat disekikatarnya,
memungkinkan melalui osmosis hingga ahirnya sel itu mempunyai konsentrasi yang
sama dengan zat disekitar isotonic. Sebelum di ketahui bahwa mambran sel adalah
tempat keluar masuknya zat pada sel yang disebut tranpor (Yatim, 1996).
Transportasi
zat pada mambran sel dibagi dua yaitu transportn pasif dan transport
aktif.transport pasif merupakan perpindahan pada mambran yang tidak membutuhkan
energi. Transport pasif terdiri atas
difusi, dan osmosis. Sedangkan transpor aktif merupakan perpindahan zat yang
membutuhkan energi karena melawan gradien konsentrasi, terdiri atas endositosis
dan ekosistosis (Campbell,
2008).
Pada
kegiatan pembelajaran kali ini kita dapat mempelajari tentang transport akif.
Dari buku-buku yang saya tealah baca terdapat berbagai teori dari berbagai
orang yang telah melakukan eksperimen dan menyimpulkan bahwa difusi adalah
perpindahan zat dari konsentrasi tinngi ke konsentrasi rendah sehingga
konsentrasinya sama, tampa melwati mambran atau pun melewati mambran, dan
osmosis adalah perpindahan zat yang larut hipotesis atau encer (konsentrasi air
tinggi ke konsentrasi zat larut rendah ) menujuh larutan hipertesis atau pekat
( konsentrasi air rendah, ke konsentrasi air tinggi) yang mana mabran
semipermeabel.
Mempelajari dunia kehidupan tidak terlepas dari
pengetahuan tentang hierarki biologi. Dalam pengetahuan biologi, sel merupakan
unit terkecil yang dapat melakukan aktivitas kehidupan. Selain itu, dalam
organisme terdapat alat transpor yang mampu mengatur organisme lainnya.
Sehingga membran sel tersusun atas senyawa fosfolipid bilayer. Oleh karena itu,
sel mampu melakukan transpor zat. Hal ini sangat dibutuhkan oleh tumbuhan agar
mereka dapat mendistribusikan energi yang mereka dapatkan dari alam.
Metabolisme pada organisme multiselluler mencakup
beberapa hal, antara lain transport zat hara dan transport ion. Sistem
transport pada hewan yaitu sistem sirkulasi. Pada sistem sirkulasi, aliran
materi terjadi karena adanya daya dorong dari organ pemompa. Sedang sistem
transport pada tumbuhan yaitu sistem vaskuler, pada sistem ini aliran senyawa
berlangsung mengikuti atau melawan padatan konsentrasi.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan pratikum osmosis adalah :
a.
Memahami perestiwa osmosis pada sel
b.
Dapat memahami dan menjelaskan proses difusi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tekanan Osmotik
Osmosis ialah difusi militasi mambran simpermeabel yang memissahkan
kedua larutan dengan konsentrasi solute yang berbeda. Proses ini cendrung untuk menyamahan
konsentrasi solut pada kedua sisi mambran tersebut. Sebagai gambaran andaikan
lah sejumblah sel bakteri disupripsikan dalam larutan yang mengandung natrium
kloride berkonsentrasi tinggi (20%). Aira yang mengalir dari darerah berisikan
substansi terlarut dengan konsentrasi lebih rendah ( bagian sel sebelah dalam mempunyai konsentrasi
garam yang lebih rendah) meluntasi mambran sitoplasma yang bersipat
semipermeabel, masuk kedalam larutan disekeliling sel. Proses ini dikenal
dengan nama plasmolisis. Pada sel-sel hewan yang tidak mempunyai diding yang
kaku, dapat teramati penyusutan sel yang sesunggunya sebagai akibat plasmolisis
(Pelcza,
2009).
Bila bakteri ditempatkan dalam larutan berisi natrium kloride
dibawah 1%, katakanlah 0,01% maka arah aliran air akan terbali, yaitu air akan
mengalir dari larutan masuk kedalam sel. Proses demikian dinamakan plasmolisis.
Terbentuk tekanan osmotik didalm sel akibat akumulasi air dalam jumblah yang
besar disitu. Apabila mambran sel itu elastik, seperti misalnya pada sel darah
merah, maka tekanan ini akan
mengakibatkan pembengkakan dan bahkan dapat meyebabkan pecahnya sel. Bakteri
memiliki dinding sel yang kaku yang dapat menahankan perubahan tekanan osmotik,
sehingga biasanya tidak menujukan biasanya tidak menujukan perubahan bentuk
atau pun ukuran yang menjolok bila terjadi plasmolisis atau plasmolitis (Pelcza,
2009).
Konsentrasi gram lebih di atas 1 % berbahaya bagi banyak bakteri,
tapi tidak bagi organisme yang merupakan penghuni asli lautan yang umumnya
berkadar garam 3,5 sampai 4 %, atau bagi organisme yang hidup dilaut mati atau
great salt lake ( danau air asin di Utah, amerika serikat ) yang kadar garam
yang 29%. Demikian pula beberapa organisme dapat tumbuh dalam konsentrasi gula
yang tinggi. Pada umumnya mikro organisme dihanbat pertumbuhannya oleh kadar
garam yang tinggi ( 10-15%) atau kadar gula yang tinggi ( 50-70%). Penghamabat
ini merupakan dasar bagi pengawetan bahan makanan dengan cara pengasinan atau
menggunakan larutan gula dengan kadar yang tinggi. Mekanisme penghambat microbe
Ini ialah plasmolisis. Sel-sel mengalami
dehidrasi sehingga tidak dapat
bermetabolisme atau tumbuh. Selanjutnya sel-sel akan mati atau dapat tetap hidup,
tapi dalam keadan dorman (Pelcza, 2009).
2.2 Difusi
Difusi adalah perbesaran zat dari ruang berkonsentrasi lebih tinggi keruang
konsentrasi yang lebih rendah.perembasan itu mungkin tanpa lewat sekat,
perembasan tanpa lewat sekat berlangsung dalam plotoplasma sendiri,seperti dari
ujung retilkulum endoplasma keujung lain. Difusi berlangsung menurut gradient
(kemiringan) konsentrasi. Yakni dari ruang yang konsentrasi zat A tinggi
keruang konsentrasi zat A itu rendah. Cara difusi umumnya pada sel dan tampak
butuh energy, proses difusi dapat terjadi bagi oksigen, air, CO2, elektrolitdan bahan organis molekul sederhana (Yatim, 1996).
2.2. 1Metode
Difusi Tunggal
Didalm metode difusi tunggal dapat dirancang oleh oudin, antigen
ditaruh di atas gel agar yang mengandung antisrum didalam suatu tabung reaksi
bermulut sempit setelah dibiarkan selama
bebrapa jam atau bebrapa hari antigen itumerambes kedalam gel membentuk pita-pita endapan pada berbagai tarai,
bergantung kepada jumblah dan macam
antigen –antibodi yang ada. Karean persiptasi terjadi ketika antigen menembus
gel. Maka cicin endapan mulai muncul didekat puncak gel dan nampaknya bergerak
perlahan kearah bawah, efek semacam ini mungkin sesunggunya disebabkan oleh
meingktnya jumblah antigen yang menyebabkan endapan itu itu melarut ( karena
reaksi intigen –anti bodi itu dapat balik). Persinpitasi terbentuk kembali pada
posisi yang lebih kebwah didalam tabung itu, yaitu pada tempat konsentrasi antigen yang optimum. Factor-faktor yang
menuntukan taraf untuk terjadinya reaksi ialah ukuran ddan konsentrasi yang
nisbi reaktan (Pelcza,
2009)
2.2.2 Metode Difusi Ganda
C.L. Oakley dan A.J. Fulthorpe memodifikasi hasil teknik J.Oudin
dengan cara menruh anti serum didalam agar didasar tabung reaksi dan
melepasinya dengan gel agar, lalu diatas nya ditaruh larutan antigen . kedua
reaktan itu berdifusi kearah maasing-masing didalam agar dan bersipitasi
terjado terdapatnya konsentrasi optimum. Ini adalah difusi ganda dimensi.
Metode difusi ganda dua dimensi yang di rancang oleh Ouchterlony mempunyai
keutungan dibandingkan dengan metode-metode diatas yaitu bahwa berbagai antigen
dan antreum dapat dibandingkan secara langsung (Pelcza,
2009).
Didalam uji ini reakta merembas dari sumur-sumur yang dibuat pada
agar didalam satu cawan petri yang datar. Pita-pita endapan terbentuk di daerah
antara sumur-sumur yang bersisi antiserum dan antigen homolog dalam konsentrasi
optimum. Bila pita-pita endapan yang dibentuk kedua intigen dan antibodi itu
melebur pada titik pertemuaanya, maka berarti kedua intigen itu sama. Bila
bersilangan artinya kedua intigen itu berbeda (Pelcza,
2009).
2.2.3 Keceptan Difusi
Beberapa kecepatan zat terlarut dapat berdifusi bergantung pada
lima faktor yaitu :
a.
Ukuran
lebih sedikit energy yang diperlukan untuk memindahkan molekul kecil dapat
didifusi lebih cepat.
b.
Suhu
molekulbegerak lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi sehingga mereka lebih
sering bertumbukan. Pegabungan molekul akiat tumbukan menjauhkan satu dengan
yang lain
c.
Perbedaan
gradien konsentrasi. Kecepatan difusi lebih tinggi dalam gradien yang besar.
Sekali lagi molekul bertumbukan lebbih sering dalam daerah yang konsentrasi
yang lebih tinggi sehingga molekul cendrung terpantul keluar daerah tersebut.
d.
Muatan.
Tiap ion yang larutan dalam cairan berkontribusi terhadap keseluruhan muatan
lisrtik cairan. Perbedaan anatara dua daerah memengaruhi kecepatan dan rah
difusi kaarena berbeda muatan ini akan menarik atau menolak io tertentu,
contohnya zat bermuatn positif seperti ion natrium akan bergerak kedaerah
bermuatan negative.
e.
Tekanan
difusi mungkin di pengaruhi oleh perbedaaan tekanan anatara dua daerah. Tekanan mendekatkan
molekul sehingga moleku-molekul yang mungkin padat menjadi bertumbukan dan
lebih sering berikatan. (Pelcza,
2009).
2.3 Osmosa
Kalau konsentrasi zat alebih tinggi di A dari pada di B atau tak ada di B
maka a merembes ke B sedangkan zat b tidak biasa merembes ke A. meski di A tak
ada b. proses perembesan ini disebut osmosa atau osmosis. Osmosa terus
berlangsung sampai konsentrasi a di A dan B sama. Naiknya permukaan B dapat di
ukur dengan menometer. Nilainya disebut nilai osmotis atau besar tekanan osmosa
B. tekanan osmosa itu di beri ukuran mm Hg (Yatim. 1996 ).
Hipotesnis (hypo artinya
rendah, dbawah, tenus yang artinya tekanan), ruang b disebut hipertesis (hiper artinya tinggi, di atas
osmosaterjadi di ruang hipotesis ke yang hipertesis. Jika tekanan osmosa sama
antara A dan B berarti tak ada perembasan zat a lagi, disebut isotonis iso
artinya sama. Transport secara osmosa terjadi banyak perembesan dalam sel tubuh.
Seperti perembesan plasma darah dari sel jaringan untuk kembali ke jumen (rongga)
kapiler (Yatim, 1996 ).
2.4 Sistem
Osmotik
Alat ukur osmosis disebut osmometer,umumnya
osmometer adalah perangkas laboratorium, tapi sel hidup dapat pula diangap
sebagai sistem osmotic. Pada keduanya biasanya terdapat dua hal yang penting.
Petama dua larutan atau lebih, atau air murni dipisahkan itu sama lain oleh
mambran yang membatasi pergerakan tekanan, setidaknya pada salah satu bagian
volumenya. pada asmometer laboratorium biasanya tekanan timbul cara hidrostatik
melawan gravitasi namun saran lain dapat pula digunakan misal, alat pelacak
volume ( contohnya bekas cahaya dan fotosel ) yang menaikan tekanan di dalam
sistem dengan piston, segera setelah volume cairan mulai membesar akibat
sedikit air yang ditambahkan pada sel dinding yang tegarlah yang menyebabkan
tekanan (Salisbury, 1995)
Perlu di ingat bahwa struktur dinding sel dan
mambran yang berbeda, mambran memungkinkan molekus air melintas lebih cepat
dari pada unsure terlarut, dinding sel primerbiasanya permaebel terhadapat
keduanya memang mambran sel tumbuhan memungkinkan berrlangsungnya osmosis,tapi
dinding sel yang tegar ialah yang menimbulkan tekanan (Salisbury, 1995).
2.5 Transport
Aktif Dan Transport
Pasif
Transport aktif (akitive Transport)semua protein
yang mengerakan zat terlarut melawan gradient konsntrasi merupakan protein
pembawah, bukn protein saluran. Hal ini masuk akalmsebab ketika terbuka,protein
saluran hanya membiarkan zat terlarut mengalir menuruni gradient konsentrasinya
bukan mengambil dan metrasportnya melawan gradient. Traport aktif memungkinkan
sel mempertahankan konsentrasi internal
zat terlarut kecil yang berada dari konsentrasi di lingkungan. Misalnya
dibandingkan dengan lingkungannya (Campbell, 2008).
Difusi melintasi mambran biologi disebut transport
pasif karena sel tidak harus mengeluarkan energy agar hal ini terjadi gradient
konsentrasi sendir
i menpersentasikan energy potensialdzn mengerakan
difusi. Akan teapi ingat bahwa mambran bersipat permaebel selektif dan kareana
memiliki efek yang berbeda-beda terhadpat lanjut difusi sebagi molekul. Dalam
kasus air akuaporin meningkatkan air berdifusi dengan sangat cepat melintas
mambran pada bebrapa sel tertentuseperti yang akan kita lihat, pengerak air
menlintas mambran plasma memilikibebagai konsekuen penting bagi sel (Campbell, 2008
).
2.5 Ekositosis
Ekositosis vartikel transport yang telah bertunas
dalam aparatus golgi bergerak disepanjang mikrotubuhlus skeleton kemambran
plasma. Ketika mambran vesikel dan mabran plasma bersentuhan, molekul-molekul
lipid pada kedua lapisan ganda menyusun ulang dirinya sendiri sehingga kedua
mambran berdifusi. Kandungan kedua tumpah kesrluruh sel semetara mambran
vasikel menjadi bagian dari mambran plasma (Campbell,
2008) .
Pada endositosissel mengambil molekul-molekul
biologis dan partikel dengan bentuk vasikel baru darah mambran plasma walaupun
protein terlihat dalam kedua transport masal berbeda, peristiwa endosis seperti
kebalikan ekositosis. Daeag kecil pada mambran plasma melekuk kedalam bentuk
kantung, ketika tambah dalam katung pun terlepas dari mambran plasma membentuk
vasikel yang mengandung materiyang berada diluar sel (Campbell, 2008).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan
Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 24 November 2015 pukul 10:00-11:30 WIB. Bertempat
di laboratorium biologi fakultas tarbiyah dan keguruan Universitas Islam Negeri
Raden Fatah Palembang.
3.2. Alat dan
Bahan
3.2.1. Alat
a. Mikroskop
b. Deckglass
c. Objek glass
d.Tabung reaksi
e. Suntikan
f. Karter Atau Silet
3.2.2.Bahan
a.
Darah burung darah
b.
Larutan Ringer
c.
Aquades
d.
Ringer Solution
e.
Gula
f.
Garam
g.
Kentang Solanum Tuberisum
h.
Timun Cucumis Sativus
3.3.1
Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam partikum plasmolisis dan kreanasi :
a. siapkan 3
buah obyek glass cekung dan 3 buah deckglass
b. obyek glass
I ditetesi ringer solution
c. obyek glass
II ditetsi larutan sukrosa
d. obyek glass
III ditetsi Aquades
e. tambahkan
darah pada tiap tetesan
f. tutup dengan
deckglass dengan hati-hati
g. amati dibwah
mikroskop, amati perubahan apa yang terjadi
3.3.2 Cara kerja
a. siapkan 3
buah perparat
b. perparat I
ditetesi ringer solution
c. perparat II
ditetsi larutan sukrosa
d. perparat III
ditetsi Aquades
e. tambahkan
darah pada tiap tetesan
f. tutup dengan
deckglass dengan hati-hati
g. amati dibwah
mikroskop, amati perubahan apa yang terjadi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan kentang dan timun di air garam
|
Pengamatan
|
Sebelum
|
10’
|
10’
|
10’
|
||||
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
timun
|
|
|
Warna
|
Kunung terang
|
Putih hijau
|
Kuning terang
|
Putih
|
Kuning terang
|
Putih
|
Kuning terang
|
Putih
|
|
Tektur
|
Keras
|
Keras
|
Agak lembut
|
Agak lembut
|
Lembut
|
Lembut
|
Lembut
|
Lembut
|
|
Ketebalan
|
1 cm
|
1 cm
|
0,9 cm
|
0,8 cm
|
0,8 cm
|
0,7 cm
|
0.6 cm
|
0,5 cm
|
|
Bentuk
|
Balok
|
Balok
|
Agak mengkirut
|
Agak mengkirut
|
Mengkirut
|
Mengkirut
|
Semakin mengkirut
|
Semakin megkirut
|
Tabel 2. Hasil
pengamatan kentang dan timun di air gula
|
Pengamatan
|
Sebelum
|
10’
|
10’
|
10’
|
||||
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
timun
|
|
|
Warna
|
Kunung terang
|
Putih hijau
|
Kuning pucat
|
Putih
|
Kuning pucat
|
Putih
|
Kuning
|
putih
|
|
Tektur
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Agak lembut
|
Agak lembut
|
Lembut
|
lembut
|
|
Ketebalan
|
1 cm
|
1 cm
|
1 cm
|
1 cm
|
0,9 cm
|
0,7 cm
|
0,8 cm
|
0,6 cm
|
|
Bentuk
|
Balok
|
Balok
|
balok Tetap
|
Balok Tetap
|
Menciut
|
Menciut
|
Semakin menciut
|
Semakin menciut
|
Tabel 3. Hasil pengamatan kentang dan timun
di air biasa
|
Pengamatan
|
Sebelum
|
10’
|
10’
|
10’
|
||||
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
Timun
|
Kentang
|
timun
|
|
|
Warna
|
Kunung terang
|
Putih hijau
|
Kuning pucat
|
Putih
|
Kuning pucat
|
Putih pucat
|
Kuning pucat
|
Putih pucat
|
|
Tektur
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Semakin keras
|
Semakin keras
|
|
Ketebalan
|
1 cm
|
1 cm
|
1.1 cm
|
1 cm
|
1,2 cm
|
1,1 cm
|
1,3 cm
|
1,2 cm
|
|
Bentuk
|
Balok
|
Balok
|
Balok sedikit kencang
|
Balok sedikit kencang
|
Balok kencang
|
Balok kencang
|
Balok besar
|
Balok beasr
|
Tabel 4. Pengamtan
plasmalis dan krenasi
|
No
|
Pengamatan
|
Air
garam
|
Air
gula
|
Air
biasa
|
|
1
|
Warna
|
Merah
gelap
|
Merah
gelap
|
Normal
( merah)
|
|
2
|
Reaksi
|
Terjadi
pengerutan
(krenasi)
terhadap sel
Darah
|
Terjadi
pengerutan
(krenasi)
terhadap sel
Darah
|
Terjadi
reaksi
hermolisis
|
|
3
|
Bentuk
|
Menkerut
atau mengecil
|
Menkerut
atau mengecil
|
Rapat
|
4.1
Pembahasan
Osomosis adalah perpindahan air melalaui mambran
permaebel selektif dari bagian yang lebih encer kebagian yang yang lebih pekat. Mambran senipermaebel harus
dapat di tebus oleh pelalut, tetapi tidak oleh zat
terlarut,yang memgakibatkan gradien tekanan sepanjang mambran. Osmosis
merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat oleh buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian pekat dengan
konsentrasi yang lebih encer (kimball, 1983).
Gaya perunik luas yang dibutuhkan untuk mencegah
mengalirnya pelarut melalui mambran permaebel selektif dan kelarutan dengan
konsetrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekakn turgor. Kentang pada
larutan air selama 10 menit pertama, setelah kentang di rendam dalam larutan air selama 10 menit , warna pada kentang
masih seperti semula, yaitu ketantang masih berukuran 1 cm, serta bentuk pada
kentang masih seperti pertama kali masukan ke dalam air.
Kentang pada air biasa selama 10 menit kedua, kentang
pada air biasa pada waktu 10 menit yang
kedua warna nya berubah agak pucat dari warna awalnya, tektur kentang menjadi
agak lembut, ketebalan kentang menjdi tipis dan bentuk kentang agak menyusut
dari pada awalnya.
Kentang pada 10 menit ketiga dlam larutan garam, gula, air.
Warna pada kentang mengalami perubahan yaitu berubah menjadi kuning pucat dari
warna sebelumnya, tekturpun keras dan memiliki ketebalan bervariasi 1,1 cm dan
mencapai 1,3 cm. Bentuk pada kentang baloklancio kencang. Timun pada 10 menit
ketiga dalam larutan graam, gula dan air. Warna berubah jadi putih pucat dari
warna sebelumnya yaitu putih hijau. Tektirnya keras memiliki ketebalan
bervareasi 1,1 cm samapai 1,2 cm. Bentuk
pada timun balok kencang.
Berdasarkan apa yang praktikan amati pada pratikum kali ini,
warna darah pada air garam dan air gula berwrna merah gelap sedangkan pada air
biasa warna normal atau tidak ada perubahan.reasksi yang terjadi pada air garam
dan air gula terjadinya pengerutan terhadapa sel darah, atau disebut dengan
kremasi, sedangkan pada air bias terjadi hemilisis.
Bentuk sel darah pada air garam dan iar gula jarak antara
selnya renggang, sedangkan pada air biasa merapat. Krenasi adalah proses
pengerutan sel darah merah apabila benda dalam larutan hipertonik. Hemolilis
adalah proses pecahnya sel darah dan hemoglobin yang berwarna merah keluar sel
karena berada dalam larutan hipotenik.
Pada pencobaan
darah burung darah mengunakan larutan gula, mehasilkan warna pada mikroskop
brubah menjadi warna merah terang dn untuk tektur akan menyatuh dan menggumpal
hal ini disebabkan karena larutan gula bersiapat hipotenis sehingga sel darah
akan bersatu.
Pada pencobaan
dengan mengunakan larutan garam menghasilkan warna darah berubah menjadi orange dan tektur berbentuk butir-butir dn pecah, hal ini
disebabkan karena adanya hipertenis sehingga sel darah akan pecah. Pada pencobaan mengunakan air biasa menghasilkan warna darah pada
mikroskop berubah menjadi warna orange terang hal ini di seabkan karena
bersipat isotonis sel darah akan bersatu.
Difusi adalah perbesaran zat dari ruang berkonsentrasi lebih tinggi keruang
konsentrasi yang lebih rendah.perembasan itu mungkin tanpa lewat sekat,
perembasan tanpa lewat sekat berlangsung dalam plotoplasma sendiri,seperti dari
ujung retilkulum endoplasma keujung lain. Difusi berlangsung menurut gradient
(kemiringan) konsentrasi. Yakni dari ruang yang konsentrasi zat A tinggi
keruang konsentrasi zat A itu rendah. Cara difusi umumnya pada sel dan tampak
butuh energy, proses difusi dapat terjadi bagi oksigen, air, CO2, elektrolitdan bahan organis molekul sederhana (Yatim , 1996).
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa larutan gula dan larutan garam merupakan larutan
kremasi. Sedangkan pada air larutan hipertenik. Darah yang diberi hipertenik
gula dan garam mengalami kremasi dan drah yang di beri air biasa mengalami
peristiwa hemolisis. Terjadi
penambahan ukuran pada objek kentang dikarenakan adanya media yang hipotesis
pada kentang, terjadi juga pengurangan ukuran
pada objek kentang di kareanakan adanya hipertensis terhadapat objek
kentang. Juga dapat di simpulkan kita dapat
mengetahui bahwa osmosis adalah
perpindahan zat pelarut air baik dari luar kedalam maupun dari dari dalam
keluar, melalumambran semipermeabel menuju daerah dengan konsentarasi yang
lebih rendah. Kondisi sel tidak selalu berada yang normal yang mudah dengan
mengaturnya sel tersebut bisa mencapai hemostatis atau seimbang. Terkdang sel
juga bisa berada dilingkungan yang ekstrem yang menyebabkan semua isi sel dipaksakan
keluar karena di luar tekanan lebih besar, jika terjadi demikian maka
terjadinya lisis atau plasmolisis yang membwah selitu layu malah menyebabkan
mati.
5.2
Saran
Dalam pelaksanaan pratkum pengamatan
kentang dan darah burung darah, di harpkan praktikumnya harus teliti dalam
melasanakannya dan berhati-hati dlam mengunakan alat-alat pratikum ( mikroskop
deckglass, cawan petri dan lain-lain).
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell.
2008. Biologi. Jakarta; Erlangga
Pelczar. 2009.
Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia.
Salisbury. 1995. Mikrobiologi. Jakarta
Salisbury. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung.
Yatim. 1996. Biologi Modern. Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar