Jumat, 05 April 2019

LAPORAN PRATIKUM I PENEGENALAN BIOLOGI SEBAGAI ILMU


LAPORAN  PRATIKUM I
PENEGENALAN BIOLOGI SEBAGAI ILMU

logo uin.jpg

Oleh :
Syahirul Alim (1512220022)


 Dosen Pembimbing :
Irham Falahudin,M.Si




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) RADEN FATAH
PALEMBANG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perkecambahan merupakan suatu rangkaian komplek perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia benih tanaman. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih. Tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk terlarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan- bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan sel-sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik tumbuh (Sutopo, 2002).  
 Pengetahuan mengenai aspek fisiologis dan biokimia perkecambahan benih sangat penting dalam industri perbenihan, karena dalam industri benih faktor pemacu dan faktor penghambat perkecambahan dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan serta tahapan proses dalam industri tersebut. Secara umum diketahui bahwa umur benih mempengaruhi kecepatan pertumbuhan serta produksi tanaman. Benih-baru pada umumnya memiliki pertumbuhan yang lebih pesat dibandingkan dengan benih-lama (Kamil, 1979). 
Dalam pengujian benih, salah satu persyaratan tumbuh yang paling penting adalah substrat/media tumbuh benih. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih adalah media perkecambahan. Pada beberapa benih tertentu, substrat perkecambahan dapat menyebabkan benih menjadi dorman (enforced domancy). Dilain pihak juga bisa mempersingkat waktu after-ripening seperti yang terjadi pada benih terung (Wusono, 2001).
 Perbedaan substrat perkecambahan dilaporkan oleh Usmaniy et al. (1990) dan Wusono (2001) dapat mengurangi konsentrasi KNO3 yang dibutuhkan untuk mematahkan dormansi benih terung. Hasil penelitian Yafid (1991) pada benih kemiri menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan pendahuluan benih dan media perkecambahan. Daya berkecambah tertinggi (70.7%) dihasilkan oleh benih tanpa perlakuan yang ditanam pada media tanah campur kompos 1:1, hasil yang sama ditunjukkan oleh penelitian Ekasari (1994). Pengaruh media per- kecambahan juga ditunjukkan oleh hasil penelitian
Tajudin (1991) pada benih Gmelina arborea, daya berkecambah tertinggi dihasilkan dari benih yang dikecambahkan pada media campuran tanah dan pasir 1:1, dibandingkan media tanah atau pasir saja, walaupun hasilnya masih rendah (46.7%). Demikian pula yang ditunjukkan oleh Nurhasybi (1994), bahwa media perkecambahan yang terbaik untuk benih rotan manau (Calumus manan) adalah media campuran tanah dan serbuk gergaji (1:1), daya berkecambah yang dihasilkan 62%. Pada benih-benih yang bermasalah dalam perkecambahannya, perlu dilakukan penelitian yang ditinjau dari aspek faktor lingkungan perkecambahan terutama substratnya dan aspek internal yang menyangkut benihnya yaitu bagaimana mengatasi dormansi benihnya sehingga diketahui kontribusi utama yang menyebabkan benih sulit untuk berkecambah.

1.2  Tujuan
Adapun tujuan mempelajari pengenalan biologi sebagai ilmu yaitu :
a)    Melatih memecahkan masalah biologi melalui prosedur ilmiah
b)    Dapat menujukkan sikap ilmiah dalam melakukan proses ilmiah
c)    Dapat berlatih menumukan fakta dan konsep ilmiah





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
    
2.1 Budidaya Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Menurut Anonymous, (2006). Lamtoro (Leucaena leucocephala)  merupakan tanaman leguminosa pohon serba guna, berasal dari Amerika Tengah dan Meksiko. Lamtoro umumnya ditanam sebagai pakan ternak, tanaman pagar dan tanaman pelindung untuk kopi dan vanili.  Sebagian masyarakat memanfaatkan buah dan daun muda untuk sayur.  Daunnya dipergunakan sebagai pakan ternak dan batangnya dimanfaatkan sebagai perabotan dan kayu bakar. Di Indonesia produksi Lamtoro dapat mencapai 200.000 metrik ton per tahun. Di kawasan Asia Tenggara Lamtoro dapat dijumpai di daerah yang mempunyai ketinggian dari 1-1500 m di atas permukaan laut.
Adapun klasifikasi dari tanaman lamtoro (Anonymous, 2006) :
     Divisio  : Spermatophyta
     Sub divisio  : Angiospermae
     Class  : Dicotiledone
     Genus  : Dialpetalae
     Ordo  : Leucaena
     Familia  : Leguminoceae
     Species  : Leucaena leucocephala
        Menurut Parotta, (1992). Tanaman lamtoro mempunyai banyak nama lain seperti leadtree, zarcilla, popinac,koa haole, ipil-ipil (Whitesell, 1974). Di Indonesia Lamtoro dikenal dengan nama petai cina. Lamtoro juga memiliki beberapa jenis antara 6 lain: Leucaena glauca cv. Benth, Leucaena blancii cv. Goyena, Leucaena glabrata cv. Rose, Leucaena greggi cv. Watson, Leucaena latisliqua cv. W.T. Gillis, Leucaena salvadorensis cv. Standl.


Menurut  Anonymous, (2006). Lamtoro merupakan tumbuhan yang memiliki batang pohon keras dan berukuran tidak besar. Tingginya mencapai 2-10 m, rantingnya berbentuk bulat silindris, dengan ujung berambut rapat. Selain itu daun lamtoro berbentuk menyirip genap ganda.Permukaan bawah daun lamtoro berwarna hijau kebiruan, dengan panjang 6-21 mm, lebar 2-5 mm. Bunga lamtoro berbentuk bonggol yang bertangkai panjang berwarna putih kekuningan dan tersusun dalam karangan bunga majemuk. Buahnyamirip dengan buah petai, namun ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Buah lamtoro termasuk buah polong, pipih, dan tipis, bertangkai pendek, panjangnya 10-18 cm, lebar sekitar 2 cm, berisi biji-biji kecil yang cukup banyak dan diantara biji ada sekat. 
Menurut  Anonymous, (2006). Kebutuhan benih lamtoro untuk 1 hektar sekitar 20 - 45 kg. Jarak tanam yang ideal adalah 1 x 1 m atau 50 x 50 cm (sebagai tanaman pagar), atau menurut tujuan penanaman. Pemupukan untuk lamtoro bisa menggunakan pupuk kandang atau pupukbuatan, untuk pemberian bisa disesuaikan dengan kondisi setempat. Pupuk P dapat diberikan sebanyak 25-30 kg/ha/tahun. Lamtoro dapat di panen pada umur 6-12 bulan. Pemotongan berikutnya setiap 3-4 bulan sekali tergantung kesuburan tanah setempat. Tinggi pemotongan antara 1 - 1,5 m dari permukaan tanah.
          Menurut Panjaitan, (2000). Lamtoro mempunyai sistem perakaran yang dalam dan berumur panjang, mencapai 50 tahunan sehingga sangat cocok dipergunakan sebagai tanaman 7 pagar dan pelidung karena tidak menggangu pada tanaman pokok, menghemat biaya dan tenaga.  Perakaran yang dalam juga menyebabkan lamtoro sangat tahan kekeringan, tetap hijau dan bertunas selama musim kering, sehingga sangat cocok sebagai sumber hijauan pakan ternak ruminansia seperti kerbau, sapi, kambing dan domba.




2.1.1 Dormansi Pada Biji Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Menurut  Francis, (1993).  Dalam praktek pembudidayaan lamtoro seringkali dihadapkan pada kendala biji yang mengalami dormansi, artinya mengalami masa istirahat/ tidak dapat berkecambah meskipun ditempatkan pada situasi yang ideal. Penyebab terjadinya dormansi biji lamtoro ini antara lain karena keadaan kulit biji yang keras sehingga air dan udara yang dibutuhkan dalam proses perkecambahan tidak dapat masuk dalam biji.
Menurut  Sutopo, (2000). Ditinjau dari segi ekonomi, benih yang mengalami dorman sebenarnya merugikan karena tidak dapat tumbuh dengan seragam, tetapi dilihat dari segi daya simpan benih yang mengalami dorman lebih tahan lama untuk disimpan.
 Menurut  Sutopo, (2000). Daya simpan benih lamtoro tergolong sedang yaitu 2-3 tahun dari masa pemanenan.  Upaya pematahan masa dormansi biji lamtoro dapat berupa pemberian perlakuan fisis, mekanis, maupun kimiawi. Salah satu perlakuan fisis yang dapat diberikan adalahdengan perendaman pada air panas. Brewbaker, et al (1972) menyatakan bahwa kecepatan berkecambah dapat ditingkatkan dengan merendam dalam air terlebih  dahulu, mengeringkan kembali lalu dikecambahkan, sehingga proses perkecambahan biji dapat berlangsung lebih cepat dan diharapkan dapat mendukung keberhasilan usaha perkembangbiakan tanaman lamtoro.   


2.1.2 Cara-Cara Mematahkan Dormansi Benih
Dipandang dari segi ekonomis keadaan dormansi benih dianggap tidak menguntungkan, oleh karena itu diperlukan cara agar dormansi dapat dipecahkan atau lama dormansinya dapat dipersingkat. Beberapa cara yang telah diketahui menurut Sadjad (1977) adalah:
              1.  Perlakuan Mekanis
Dipergunakan untuk memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau udara.
1.1 Skarifikasi: mengikir atau menggosok kulit biji dengan kertas ampelas, melubangi kulit biji dengan pisau, menggoncang benih untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Hal ini bertujuan untuk melemahkan biji yang keras, sehingga lebih permeabel terhadap air atau udara.
1.2. Tekanan: memberi tekanan hidraulik 2000 atm pada 18ºC selama 5-20 menit sehingga dapat meningkatkan perkecambahan sebesar 50-80%. Efek tekanan akan terlihat setelah benih-benih tersebut dikeringkan dan disimpan
.    
            2. Perlakuan Kimia
Perlakuan ini dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti asam sulfat dan asam nitrat dengan konsentrasi pekat agar kulit biji menjadi lebih lunak sehingga air dengan mudah terserap. Bahan kimia lain yang juga sering digunakan adalah : potassium hydroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat, dan thiourea. Disamping itu dapat pula digunakan hormon tumbuh untuk memecahkan dormansi pada benih, antara lain adalah: cytokinin, giberelin, dan auxin (contoh: Indole Acetic Acid). 
            3. Perlakuan Perendaman dengan Air
Menurut Sadjad (1977), Perlakuan ini dengan cara merendam benih dengan air panas pada suhu perendaman dan lama perendaman tertentu agar kulit biji lebih mudah dalam proses penyerapan air (imbibisi).  

2.2 Metabolisme Perkecambahan Benih
Menurut Parotta, (1992). Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia.
Menurut Suseno, (1974).Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih. Tahap ketigamerupakan tahap di mana terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ke titik tumbuh.


Menurut Suseno, (1974). Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah yang mudah menggandakan atau membelah diri (meristematik) untuk menghasilkan energi bagi pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik tumbuh. Sementara daun belum dapat berfungsi sebagai organ untuk fotosintesa maka pertumbuhan kecambah sangat tergantung pada persediaan makanan yang ada dalam biji.
Menurut Suseno, (1974).  Penyerapan air oleh benih yang terjadi pada tahap pertama, biasanya berlangsung    sampai  jaringan  mempunyai  kandungan air 40-60%   (atau 67-150 % atas dasar berat kering). Dan akan meningkat lagi pada saat munculnya radicle (akar-akar yang baru muncul dari suatu perkecambahan) sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandungan air 70-90% (Ching, 1972). Jaringan penyimpanan pada benih dapat menyimpan 80% protein yang berbentuk kristal, sedang sisanya terbagi dalam nuclei (inti), mitochondria (lokasi sintesis ATP), protoplastid (unsur pembentuk sel hidup), microsome (butiran kecil yang terdapat dalam poliplasma) dan dalam cytosol (cairan dalam sitoplasma)            
Bagian-bagian biji legum pada fase pertumbuhan diantaranya:
Akar   : sumbu untuk tumbuhnya batang
Calon akar : yang akan menjadi akar
Plumulae  : bagian yang pertama tumbuh pada saat pertunasan
Hypocotyl : Bagian di bawah kotiledon
Epicotyl  : Bagian di bawah kotiledon




2.3 Pengujian Benih
Menurut Sadjad (1977). Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas dari suatu jenis atau kelompok benih. Keterangan tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi produsen, penjual maupun konsumen benih. Karena mereka bisa memperolehinformasi yang dapat dipercaya tentang mutu benih tersebut. Pengujian benih dilakukan dilaboratorium untuk menentukan baik mutu fisik maupun mutu fisiologik suatu jenis atau kelompok benih. Pengujian terhadap mutu fisik benih mencakup kegiatan pengambilan contoh benih, pengujian terhadap kemurnian benih, kadar air benih dan berat 1000 butir benih. Sedangkan pengujian terhadap mutu fisilogik benih mencakup kegiatan pengujian daya kecambah, kekuatan tumbuh, dan kesehatan benih. Uji daya hidup benih (vigoritas) dapat dilakukan secara langsung dengan mengamati dan membandingkan unsur-unsur tumbuh penting dari benih pada suatu periode uji tertentu. Struktur pertumbuhan yang dinilai terdiri dari akar, batang dan daun. Uji daya hidup benih dapat pula dilakukan secra tidak langsung, yaitu dengan mengukur aktivitas metabolisme benih misalnya dengan menggunakan uji Tetrazolium.
Menurut Sadjad (1977) tujuan utama dari analisis kemurnian benih adalah:
1.      untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih.
2.       identitas dari berbagai species benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam contoh. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 4 komponen sebagai berikut:
a)    Benih murni
b)   Benih rusak
c)    Benih species lain.
d)   Benih gulma
e)     Bahan lain, kotoran.
               Benih murni: 
Menurut Sadjad (1977). Dalam pengertian benih murni termasuk semua varitas dari species yang dinyatakan oleh pengirim atau berdasarkan penemuan dengan uji laboratorium, yang menyatakan benih tersebut masak dan utuh  Benih rusak: Yang termasuk ke dalam kategori benih murni dari suatu species adalah: Benih yang berukuran kecil, mengerut, tidak masak, Benih yang telah pecah dari kulitnya. Benih spescies lain: Komponen ini mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji. Kumpulan rumput dan akar liar: Mencakup semua benih ataupun bagian vegetatif tanaman yang termasuk dalam kategori gulma. Juga pecahan gulma yang berukuran setengah atau kurang dari setengah ukuran yang sesungguhnya tetapi masih mempunyai embrio. Bahan anorganik: Termasuk semua pecahan benih yang tidak memenuhi persyaratan baik dari komponen benih murni, benih species lain maupun gulma; partikel-partikel tanah, pasir, sekam, jerami dan bagian-bagian tanaman seperti ranting, daun dan lain-lain.

2.4 Persentase Perkecambahan
Menurut Sadjad (1977). Persentase Perkecambahan adalah banyaknya semaian bibit normal untuk menghitung periode tes (yang dirata-ratakan atas tiga ulangan) (Prodonoff, 1973). Indeks mutu benih nantinya bermanfaat, untuk mengetahui kombinasi hasil antara analisis kemurnian dan test perkecambahan, dinyatakan sebagai Persentase kemurnian hidup benih (Pure Live Seeds).  P.L.S=  % Berat benih murni  X   % perkecambahan benih murni.

2.5 .Biji
Menurut  Hidayat. (1995).Merupakan sumber makan yang penting bagi hewan dan manusia. Diantara agiospermae,poceae paling baying menghasilkan pangan yang berasl dari biji. Fabeaceae menempati tempat kedua dalam kepentingan itu.  Selain untuk panagan, biji menjadi sember minuman (kopi,coklat, bir), obat, serat (kapas), dan minyak yang digukan dalam industry


 2.6 Bagian Biji
Menurut  Hidayat. (1995). Biji di bentuk dengan adanya perkembangan bekal biji.pada saat pembuahan. Pada saat pembuahan, tabung sering masuk sering masuk kantong embrio dsn mempati dua buah inti gamet jantan padanya. Satu di antranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu kedua inti polar atau hasil penyatuannya,yakni inti sekunder.
Menurut  Hidayat. (1995).Embrio adalah sporofil muda yang tidak segera melanjutkan pertumbuannya,melainkan masuk masa istirahat (dorman).saat itu biasanya biji tahan stress:kekurangan air, panas atau dingin yang berlebihan , penekanan, dan serangan kimiawi

2.7 Perkembangan Biji
Menurut  Hidayat. (1995). Pembuahan ganda merupakan rangsangan yang melalui peristiwa perkembangan yang menghasilkan biji. Pertumbuhan dan diferensiasi bekal biji, kantung abrio,serta endospermdan embrio berlansgung menurut stadium yang paling terkait serta mengikuti urutan yang khas, setelah pembuahan, pertumbuhan bekal biji segera diikuti oleh pertumbuhan endosperm. Peningktan volume endosperm  berkitan ditambah kantng embrio. Embrio yang akan menunjukan pertambhan ukuran dengan cepat setalelah endosperm mencapai volume maksimal. Pada kapri, pertumbuhan embrio terjadi seiring dengan penguraian volume endosperm sehingga embrio memenuhi kantung emberio sebelum masa dormon.

2..8 Kulit Biji
Menurut  Hidayat. (1995). Biasanya Kulit biji bereda-beda sehubugan dengan sipat khas biji,seperti jumblah dan tebal integument, pola jaringan pembuluh, serta perubahan dala intergumen sewaktu biji menjadi masak.


2.9 Pekembangan Edosperma
Menurut Cambell. (2008).berkembang sebelum embrio berkembang. Setelah fertilisasi ganda nucleus triploid pada sel tengah ovul pembelah,bentuk sebuah ‘supersel’ multinukleat  yang sekental susu. Masa cair ini endosperma menjadi mltiseluler  ketika situkinesis membagi-bagi sitoplasma melalui bentuk mambran di antara nucleus-nukleus.
2.10 Perkembanagan Embrio
Menurut Cambell. (2008).Sel terminal pada ahirnya muncul sebagian embrio. Sel basal terus membelah, menghasilkan rangkaian sel-sel yang di sebut suspensor, yang menabtkan ke embrio tumbuhan induk.suspensor membantu mentransfer nutrient ke embrio dari tumbuhan induk dan bebrapa spesies tumbuahn dari indosperma.


















BAB III
METODELOGI PRATIKUM

3.1.Waktu Dan Tempat
Pratikum Ini Dilaksanakan Pada Hari  Jum’at, Tanggal 6 November 2015. Jam 08.00.-09.30 WIB Di Laboratorium Biologi. Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negri ( UIN ) Raden Fatah Palembang
3.2. Alat Dan Bahan
3.2.1        Alat
a)    Polibag 6 Buah
b)    Cawan Gelas
c)    Gelas Petri
3.2.2 Bahan
a)    Biji Jagung 10 Biji         Zea mays
b)    Kacang Hijau 10 Biji vigna radiate L
c)    Tanah Gembur  Atau Tanah Hitam
d)    Tanah Rawa     
e)     Air Comberan
f)    . Pete Cina 10 Buah       leuceana leucocephaphala
3.2.3. Cara kerja
a)    Rendam bji lamoro,biji jagung, dan biji kacnag hijau
b)   Pilih biji-bijian yang sudah di rendam kemudian tanaman di dalam polibag yang di tanah rawa, dan tanah netral.
c)    Masukkan jenis tanah tersebut ke dalam wadah (kolibek) sebanyak 6wadah.
d)   Masukkan biji jagung,kacang hijau dan lamtoro di setiap wadah.
e)    Pindahkan 3 wadah ketempat terang dan 3 wadah ketempat gelap.
f)    Setiap hari siram dengan air limbah.
g)   Tunggu perubahan biji setiap harinya.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1  Hasil
4.1.1 Pertumbuhan biji di tempat terang
Tabel 1.  Pertumbuhan biji kacang hijau di tanah rawa
Biji ke-
Tinggi ( cm ) Hari ke-
Rata-Rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
0,1
0,4
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
0,25
Warna batang msih kekuningan hari selanjutnya mulai tumbu  daun dan batang bagian bawah mulai  berwarna merah
2
0,4
0,8
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
0,6
3
0,9
2,2
3,5
4,3
5,8
7,2
8,3
4,59
4
0,5
1,2
2,6
3,8
5,5
7,8
8,0
4,2
5
0,3
0,7
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
0,5
Jumlah
10,14


Tabel 2. Pertumbuhan biji jagung di tanah rawa
Biji ke-
Tinggi ( cm ) Hari ke-
Rata-Rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Hari pertama tidak ada perubahan
2
-
-
Mulai pecah
Mulai pecah
0,2
1,7
8,9
3,6
pada hari ke 3 dan 4 biji mulai pecah dan hri ke 5 muncul daun
3
-
-
-
Mulai pecah
Mulai pecah
Mulai pecah
Mati
-
Pada hri 1,2,dan 3 tidak ada perubahan hri ke 4 biji mulai pecah dan hri ke 7 biji mati
4
-
-
Mulai pecah
Mulai pecah
Mulai pecah
0,2
3,5
1,23
Hari ke 1 dan 2 belum ada perubahan pada hari ke 5 no 4 dan 5 mulai pecah
5
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Pada hari ke 1 dan 2 belum ada
Jumlah
4,83



Tabel 3. Pertumbuhan biji lamtoro di tanah rawa
Biji ke-
Tinggi ( cm ) Hari ke-
Rata-Rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh sama sekali
2
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh sama sekali
3
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh sama sekali
4
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh sama sekali
5
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh sama sekali
Jumlah
-











Tabel 4. Pertumbuhan biji kacang hijau di tanah humus
Biji ke-
Tinggi ( cm ) Hari ke-
Rata-Rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
0,2
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Hari pertama belum ada perubahan hri ke 2 mulai tumbuh dan hari selanjutnya hilang
2
-
0,4
0,3
3,5
4,5
6,2
7,5
3,2
Hari pertama tidak ada perubahan dan hari selnjutnya muai tumbuh
3
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Hari ke 1 dan 2 tidak ada perubahan dan selanjutnya hilang
4
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Hari ke 1 dan 2 tidak ada perubahan dan selanjutnya hilang
5
-
-
0,2
0,3
0,5
Hilang
Hilang
-
Heri ke 1 tidak ada perubahan dan hari selanjutnya mulai tumbuh
Jumlah
3,53




Tabel 5. Pertumbuhan biji jagung di tanah humus
Biji ke-
Tinggi ( cm ) Hari ke-
Rata-Rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
-
Mulai pecah
0,6
3,5
4,7
2,93
Pada hri keempat biji mulai pecah dan selanjutnya jagung mulai tumbuh
2
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Hari pertama dan kedua tidak ada perubahan dan hari selanjutnya hilang
3
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Hari pertama dan kedua tidak ada perubahan dan hari selanjutnya hilang


Tabel 6. Pertumbuhan biji lamtoro di tanah humus
Biji ke-
Tinggi ( cm ) Hari ke-
Rata-Rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
-
-
-
1,0
1,4
1,2
Hari pertama sampai hari ke lima belum tumbuh dan pada hari ke 6 mulai tumbuh
2
-
-
-
-
-
0,8
0,9
0,85
Baru mulai tumbuh pada hari ke enam
3
-
-
-
-
0,2
1,7
2,9
1,6
Baru mulai tumbuh pada hari ke lima
4
-
-
-
-
-
1,3
2,5
1,9
Baru mulai tumbuh pada hari keenam
5
-
-
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
Hilang
-
Pada hari ketiga objek yang diamati menghilang
Jumlah
5,55





4.1.2 Tanaman di tempat gelap
           
              Tabel 1. Pertumbuhan kacang hijau ditempat gelap pada tanah rawa

Biji
Tiggi (cm) hari ke
Rata-rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
0,5
1,5
2,1
2,5
11
16,5
21,6
7,9
Hidup, 2 lembar daun, batang kecil
2
-
1
8
19
25
28,9
32
16,2
Hidup, 2 lembar daun, batang kecil
3
-
-
-
-
6,2
12
14,3
4,6
Hidup, 2 lembar daun, batang kecil
4
-
-
-
-
-
-
-
0
Tidak tumbuh atau gagal
5
0,5
2,9
7,9
19,2
27,5
31
33,7
17,5
Hidup, 2 lembar daun, batang kecil
Jumlah
9,24







Tabel 2. Pertumbuhan kacang hijau ditempat gelap pada tanah gembur

Biji
Tiggi (cm) hari ke
Rata-rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
0,5
1,5
6,5
14
20
25
27
13,5
Hidup, 2 lembar daun
2
0,3
1,8
7
13
29
32,3
37
17,2
Hidup, 2 lembar daun
3
0,3
1,2
7,4
14,5
23
26,1
30
14,6
Hidup, 2 lembar daun
4
0,5
1,6
9,5
15,3
27,6
29,4
32
16,5
Hidup, 2 lembar daun
5
0,5
2,3
6,3
14
26,6
30,3
34
16,2
Hidup, 2 lembar daun
Jumlah
15,6



Tabel 3. Pertumbuhan jagung ditempat gelap pada tanah rawa

Biji
Tiggi (cm) hari ke
Rata-rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh atau gagal
2
-
-
-
-
-
-
-
-
Tiak tumbuh atau gagal
3
0,1
1,4
6,3
13
20,6
26,5
33,7
14,5
Hidup, 2 lembar,
4
0,1
1,4
5,5
13,5
20,4
29
36
15,1
Hidup, 2 lembar daun dominan berwarna kuning pucat dari pada hijau
5
-
-
-
-
-
-
-
-
Hidup, 3 lembar daun, dominan berwarna kuning pucat dari pada hijau
Jumlah
5,8








Tabel 4. Pertumbuhan jagung ditempat gelap pada tanah subur

Biji
Tinggi (cm) hari ke
Rata-rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh atau gagal
2
-
-
-
-
-
-
-
-
Tiak tumbuh atau gagal
3
0,1
1,1
4,4
8,5
13,1
17
22,5
9,5
Hidup, 2 lembar, warna kuning
4
0,1
4,2
8,5
14,9
20,4
20
23
10,1
Hidup, 2 lembar, warna kuning
5
-
0,5
3
7,5
14
19,6
22
9,5
Hidup, 2 lembar, warna kuning
Jumlah
5,8

     

     Tabel 5. Pertumbuhan biji lamtoro ditempat gelap pada tanah rawa

Biji
Tiggi (cm) hari ke
Rata-rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
3,9
6,5
10,5
11,8
12
6,3
Hidup
2
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh atau gagal
3
-
-
3,2
3,2
6,5
8,4
9,1
4,3
Hidup
4
-
-
0,7
3
8
10,3
11
4,7
Hidup
5
-
-
2,7
4
8,2
10
11
5,1
Hidup
Jumlah
4,08










Tabel 6. Pertumbuhan biji lamtoro ditempat gelap pada tanah gembur

Biji
Tiggi (cm) hari ke
Rata-rata
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
-
-
-
-
-
-
-
-
Tidak tumbuh atau gagal
2
-
-
-
1
-
-
-
-
Tidak tumbuh atau gagal
3
-
-
2
3,5
6,5
10,4
11,5
4,3
Hidup
4
-
-
-
-
-
-
3
4,7
Hidup, kulit biji belum lepas
5
-
0,2
2,1
5
9
10,2
11
5,1
Hidup
Jumlah
2,62



4.2.Pembahasan
4.2.1 Pembahasan pengamatan di tempat terang
Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan terbukti bahwa proses pertumbuhan di tanah rawa lebih cepat tumbuh dibandingkan proses pertumbuhan di tanah humus, pada pertumbuhan tumbuhan kacang hijau dan jagung. Sedangkan pada tumbuhan lamtoro lebih cepat tubuh di tanah humus dan ditanah rawa tanamannya malah tidak tumbuh sama sekali.
Perkecmbahan biji terdapat 2 macam, yaitu perkecambahan epigeal dan perkecambahan hypogeal.Perkecambahan epigeal adalah tumbuhnya hipokotil yang memanjang sehingga plumula dan kotiledon terangkat ke permukaan tanah, contohnya tanaman kacang hijau. Perkecambahan hypogeal adalah tumbuhnya epikotil yang memanjang sehingga plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas permukaan tanah  sehingga kotileden tertinggal di dalam tanah contohnya tanaman jagung
Pada hasil pengamatan ditanah rawa pada biji jagung didapatkan rata-rata 4,83 cm. pada tanaman kacang hijau di tanah rawa didapatkan rata-rata tinggi 10,14 cm dan pada biji lamtoro tidak didapatkan rata-rata karena bijinya tidak tumbuh sama sekali.
Pada hasil pengamatan ditanah humus pada biji kacang hijau didapatkan rata-rata 3,53 cm. pada tanaman jagung didapatkan rat-rata 2,93 cm. dan pada biji lamtoro didapat rata-rata 5,5 cm.
Selain dipengaruhi oleh tanah pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah gen dan hormon. Faktor eksternalnyaadalah air, mineral, suhu, kelembapan, cahaya, dan nutrisi.

4.2.2 Pembahasan pengamatan di tempat gelap
Perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa. Pertumbuhan adalah salah satu proses bertambahnya ukuran, baik volume, bobot dan jumlah sel yang bersifat irrevesible ( tidak dapat kembali asal ). Ada dua faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksernal berupa cahaya matahari,suhu, dan air. Faktor internal berupa gen dan hormon.

Pada pengamatan hasl ditanah rawa pada biji di dapatkan rata-rata 5,9 cm, Pada tanaman kacang hijau di tanah rawa didapatkan rata-rata 4,08 cm. Pada hasil pengamatan ditanah gambar pada biji jagung idapatkan rata-rata 5,8 cm . Pada biji lamtoro ditanah gembur di dapatkan rata-rata 2,62 cm.

Pertumbuhan biji juga di pengaruhi oleh jenis tanah biji yang diletakkan ditanah gembur dan tanah rawa lebih cepat tumbuh dibandingkan biji ditanah rawa.    Dalam hasil prktikum yang kami lakukan dan di amati itu banyak sekali suatu perubahan baik  dan di amati Setelah di amati ketiga tumbuhan tersebut banyak perbedaan, dari batang, daun,sampai ada juga yang mati. Beberapa factor yang menyebabkan perbedaan pertumbuhan diantara ketiga tumbuhan tersebut yaitu :


a.  Faktor Cahaya
Cahaya bermanfaat bagi tumbuhan terutama sebagai energi yang nantinya digunakan untuk proses fotosintesis. Cahaya juga berperan dalam proses pembentukan klorofil. Akan tetapi cahaya dapat bersifat sebagai penghambat (inhibitor) pada proses pertumbuhan, hal ini terjadi karena cahaya dapat memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya. Sehingga, pada proses perkecambahan yang diletakkan di tempat yang gelap akan menyebabkan terjadinya etiolasi dimana kacang hijau tumbuh lebih panjang namun tidak subur pertumbuhannya.

b. Faktor Suhu
Suhu yang cukup (suhu ruangan) dapat mengoptimalkan kerja hormon-hormon tumbuhan karena kerja enzim/hormon (faktor internal) tumbuhan sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan.Semakin panas atau dingin suhu ruangan maka hormon tumbuhan semakin tidak bekerja.
c. Faktor Air dan Nutrisi :
Menurut  Anima (2013)Air sangat diperlukan oleh tumbuhan sebagai media terjadinya reaksi kimia, dan tanaman hijau yang kekurangan air lambat laun akan layu. Rupanya dalam percobaan, detergen tidak hanya memberi air sebagai media reaksi kimia namun juga memberi nutrisi karena mengandung Asam Nitrat dan Natrium Trifosfat yang juga ada dalam kandungan pupuk untuk menyuburkan tanaman
Menurut  Anima (2013).Keberhasilan tumbuahn itu sangat tergantung pada tanah yang sangat subur atau tidak, dan juga tempat tumbuhan itu tumbuh. Namun biji yang jatuh dan kecambah tumbuhan induk hanya memiliki sedikit kesempatan untuk yang sangat berhasil dalam besaing memperebutkan itu tumbuhan butrien. Agar tumbuh dengan baik dalam penanaman dengan baik, biji harus disebarkan sejauh-jauhnya agar mendapatkan nutrisi tanah dan cahaya matahai yang sangta cukup dalam suatu penanaman

Menurut  Stiti, B. (1995)Pembuahan ganda merupakan rangsangan yang melalui peristiwa perkembangan yang menghasilkan biji. Pertumbuhan dan diferensiasi bekal biji, kantung abrio,serta endospermdan embrio berlansgung menurut stadium yang paling terkait serta mengikuti urutan yang khas, setelah pembuahan, pertumbuhan bekal biji segera diikuti oleh pertumbuhan endosperm. Peningktan volume endosperm  berkitan ditambah kantng embrio. Embrio yang akan menunjukan pertambhan ukuran dengan cepat setalelah endosperm mencapai volume maksimal. Pada kapri, pertumbuhan embrio terjadi seiring dengan penguraian volume endosperm sehingga embrio memenuhi kantung emberio sebelum masa dormon




















BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pratikum yang telah dilaksanakan tentang pegamatan biologi sebagai ilmu. Sebagaimna kita membahas tentang pertumbuhannya,tanaman lain memelikan factor-faktor internal untuk tumbuh juga menumbuhkan factor ekternal berupa kecukupan suhu, air, cahaya, dan tentunya nutrisi hal ini dibuktikankan  pencobaan air comberan dimana tanaman lebih subur bila diberi air comberanyang selain mengandung air,juga megadung pH yang tinggi). Bila ada ketiak seimbangan salah satu factor tersebut, maka tanaman tidak akanmencapai pertumbuhan yang optimal.
      
5.2 Saran
Sebelum penanaman, terlebih dahulu dilakukan perendaman untuk memecah dormansi biji itu sendiri. Jadi, sebaiknya perendaman lebih dimaksimalkan agar berhasil memecahkan dormansi biji yang akan ditanam. Sehingga kesalahan pengamatan lebih dapat diminimalisir.
Setelah itu pilih biji kacang yang masih segar sehingga dapat memaksimalkan penelitian. Kondisi pencahayaan lebih dimaksimalkan baik penempatan di tempat terang maupun gelap dan dalam melakukan percobaan, hemdaknya memperhatikan dalam kualitas biji-bijian.


           


DAFTAR PUSTAKA

Cambell. 2008. Biologi Edisi Kehidupan jilid 2.Jakarta. Erlangga
Hidayat, S. 1995. Anatomi Tumbuhan berbiji . ITB Bandung
Whitesell CD. 1974. Leucaena leucocephala, leucaena. In: Schopmeyer CS, tech. coord. Seeds of woody plants in the United States. Agric. Handbk. 450. Washington, DC: USDA Forest Service: 491B493. 21 Desember 15. Jam 13:00 WIB
__________ .2008. Studi aspek fisiologis dan biokimia perkecambahan benih jagung (zea mays l.) Pada umur penyimpanan benih yang berbeda. http://www.jurnal perkecambanjagung.pdf.com.21 Desember 15. Jam 13:00 WIB
__________ .2006.  Pengaruh Jenis Media Perkecambahan dan Perlakuan Pra Perkecambahan terhadap Viabilitas Benih Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan Hubungannya dengan Sifat Dormansi Benih. http://www.jurnal perkecambanlamtoro.pdf.com Bul. Agron Vol. (34) No. (2) 119 – 12320. Hari 21 Desember 15. Jam 13:00 WIB



Tidak ada komentar:

Posting Komentar