LAPORAN PRATIKUM I
PENEGENALAN BIOLOGI SEBAGAI ILMU

Oleh :
Syahirul Alim (1512220022)
Dosen Pembimbing :
Irham Falahudin,M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) RADEN FATAH
PALEMBANG
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Perkecambahan
merupakan suatu rangkaian komplek perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia
benih tanaman. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses
penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi protoplasma.
Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya
tingkat respirasi benih. Tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian
bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk
terlarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah
asimilasi dari bahan- bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik
untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan sel-sel baru.
Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan,
pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik tumbuh (Sutopo, 2002).
Pengetahuan mengenai aspek fisiologis dan
biokimia perkecambahan benih sangat penting dalam industri perbenihan, karena
dalam industri benih faktor pemacu dan faktor penghambat perkecambahan dapat
dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan serta tahapan proses dalam
industri tersebut. Secara umum diketahui bahwa umur benih mempengaruhi
kecepatan pertumbuhan serta produksi tanaman. Benih-baru pada umumnya memiliki
pertumbuhan yang lebih pesat dibandingkan dengan benih-lama (Kamil, 1979).
Dalam pengujian
benih, salah satu persyaratan tumbuh yang paling penting adalah substrat/media
tumbuh benih. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih
adalah media perkecambahan. Pada beberapa benih tertentu, substrat
perkecambahan dapat menyebabkan benih menjadi dorman (enforced domancy). Dilain
pihak juga bisa mempersingkat waktu after-ripening seperti yang terjadi pada
benih terung (Wusono, 2001).
Perbedaan substrat perkecambahan dilaporkan
oleh Usmaniy et al. (1990) dan Wusono (2001) dapat mengurangi konsentrasi KNO3
yang dibutuhkan untuk mematahkan dormansi benih terung. Hasil penelitian Yafid
(1991) pada benih kemiri menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan
pendahuluan benih dan media perkecambahan. Daya berkecambah tertinggi (70.7%)
dihasilkan oleh benih tanpa perlakuan yang ditanam pada media tanah campur
kompos 1:1, hasil yang sama ditunjukkan oleh penelitian Ekasari (1994).
Pengaruh media per- kecambahan juga ditunjukkan oleh hasil penelitian
Tajudin (1991)
pada benih Gmelina arborea, daya berkecambah tertinggi dihasilkan dari benih
yang dikecambahkan pada media campuran tanah dan pasir 1:1, dibandingkan media
tanah atau pasir saja, walaupun hasilnya masih rendah (46.7%). Demikian pula
yang ditunjukkan oleh Nurhasybi (1994), bahwa media perkecambahan yang terbaik
untuk benih rotan manau (Calumus manan) adalah media campuran tanah dan serbuk
gergaji (1:1), daya berkecambah yang dihasilkan 62%. Pada benih-benih yang
bermasalah dalam perkecambahannya, perlu dilakukan penelitian yang ditinjau
dari aspek faktor lingkungan perkecambahan terutama substratnya dan aspek
internal yang menyangkut benihnya yaitu bagaimana mengatasi dormansi benihnya
sehingga diketahui kontribusi utama yang menyebabkan benih sulit untuk
berkecambah.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan
mempelajari pengenalan biologi sebagai ilmu yaitu :
a)
Melatih memecahkan masalah biologi melalui
prosedur ilmiah
b)
Dapat menujukkan sikap ilmiah dalam melakukan proses
ilmiah
c)
Dapat berlatih menumukan fakta dan konsep ilmiah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budidaya Lamtoro
(Leucaena leucocephala)
Menurut Anonymous, (2006). Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan tanaman leguminosa pohon serba
guna, berasal dari Amerika Tengah dan Meksiko. Lamtoro umumnya ditanam sebagai
pakan ternak, tanaman pagar dan tanaman pelindung untuk kopi dan vanili. Sebagian masyarakat memanfaatkan buah dan
daun muda untuk sayur. Daunnya
dipergunakan sebagai pakan ternak dan batangnya dimanfaatkan sebagai perabotan
dan kayu bakar. Di Indonesia produksi Lamtoro dapat mencapai 200.000 metrik ton
per tahun. Di kawasan Asia Tenggara Lamtoro dapat dijumpai di daerah yang
mempunyai ketinggian dari 1-1500 m di atas permukaan laut.
Adapun klasifikasi dari tanaman lamtoro (Anonymous, 2006) :
Divisio : Spermatophyta
Sub
divisio : Angiospermae
Class : Dicotiledone
Genus : Dialpetalae
Ordo : Leucaena
Familia : Leguminoceae
Species : Leucaena leucocephala
Menurut Parotta, (1992). Tanaman
lamtoro mempunyai banyak nama lain seperti leadtree, zarcilla, popinac,koa
haole, ipil-ipil (Whitesell, 1974). Di Indonesia Lamtoro dikenal dengan nama
petai cina. Lamtoro juga memiliki beberapa jenis antara 6 lain: Leucaena glauca
cv. Benth, Leucaena blancii cv. Goyena, Leucaena glabrata cv. Rose, Leucaena greggi
cv. Watson, Leucaena latisliqua cv. W.T. Gillis, Leucaena salvadorensis cv.
Standl.
Menurut Anonymous, (2006). Lamtoro
merupakan tumbuhan yang memiliki batang pohon keras dan berukuran tidak besar.
Tingginya mencapai 2-10 m, rantingnya berbentuk bulat silindris, dengan ujung
berambut rapat. Selain itu daun lamtoro berbentuk menyirip genap ganda.Permukaan
bawah daun lamtoro berwarna hijau kebiruan, dengan panjang 6-21 mm, lebar 2-5
mm. Bunga lamtoro berbentuk bonggol yang bertangkai panjang berwarna putih
kekuningan dan tersusun dalam karangan bunga majemuk. Buahnyamirip dengan buah
petai, namun ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Buah
lamtoro termasuk buah polong, pipih, dan tipis, bertangkai pendek, panjangnya
10-18 cm, lebar sekitar 2 cm, berisi biji-biji kecil yang cukup banyak dan
diantara biji ada sekat.
Menurut Anonymous, (2006). Kebutuhan
benih lamtoro untuk 1 hektar sekitar 20 - 45 kg. Jarak tanam yang ideal adalah
1 x 1 m atau 50 x 50 cm (sebagai tanaman pagar), atau menurut tujuan penanaman.
Pemupukan untuk lamtoro bisa menggunakan pupuk kandang atau pupukbuatan, untuk
pemberian bisa disesuaikan dengan kondisi setempat. Pupuk P dapat diberikan
sebanyak 25-30 kg/ha/tahun. Lamtoro dapat di panen pada umur 6-12 bulan.
Pemotongan berikutnya setiap 3-4 bulan sekali tergantung kesuburan tanah setempat.
Tinggi pemotongan antara 1 - 1,5 m dari permukaan tanah.
Menurut Panjaitan, (2000). Lamtoro mempunyai
sistem perakaran yang dalam dan berumur panjang, mencapai 50 tahunan sehingga
sangat cocok dipergunakan sebagai tanaman 7 pagar dan pelidung karena tidak
menggangu pada tanaman pokok, menghemat biaya dan tenaga. Perakaran yang dalam juga menyebabkan lamtoro
sangat tahan kekeringan, tetap hijau dan bertunas selama musim kering, sehingga
sangat cocok sebagai sumber hijauan pakan ternak ruminansia seperti kerbau,
sapi, kambing dan domba.
2.1.1 Dormansi Pada Biji Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Menurut Francis, (1993). Dalam praktek pembudidayaan lamtoro
seringkali dihadapkan pada kendala biji yang mengalami dormansi, artinya
mengalami masa istirahat/ tidak dapat berkecambah meskipun ditempatkan pada
situasi yang ideal. Penyebab terjadinya dormansi biji lamtoro ini antara lain
karena keadaan kulit biji yang keras sehingga air dan udara yang dibutuhkan
dalam proses perkecambahan tidak dapat masuk dalam biji.
Menurut Sutopo, (2000). Ditinjau
dari segi ekonomi, benih yang mengalami dorman sebenarnya merugikan karena
tidak dapat tumbuh dengan seragam, tetapi dilihat dari segi daya simpan benih
yang mengalami dorman lebih tahan lama untuk disimpan.
Menurut Sutopo, (2000). Daya simpan benih lamtoro
tergolong sedang yaitu 2-3 tahun dari masa pemanenan. Upaya pematahan masa dormansi biji lamtoro
dapat berupa pemberian perlakuan fisis, mekanis, maupun kimiawi. Salah satu
perlakuan fisis yang dapat diberikan adalahdengan perendaman pada air panas.
Brewbaker, et al (1972) menyatakan bahwa kecepatan berkecambah dapat
ditingkatkan dengan merendam dalam air terlebih
dahulu, mengeringkan kembali lalu dikecambahkan, sehingga proses
perkecambahan biji dapat berlangsung lebih cepat dan diharapkan dapat mendukung
keberhasilan usaha perkembangbiakan tanaman lamtoro.
2.1.2 Cara-Cara Mematahkan Dormansi Benih
Dipandang dari segi ekonomis keadaan dormansi benih dianggap tidak
menguntungkan, oleh karena itu diperlukan cara agar dormansi dapat dipecahkan
atau lama dormansinya dapat dipersingkat. Beberapa cara yang telah diketahui
menurut Sadjad (1977) adalah:
1. Perlakuan Mekanis
Dipergunakan untuk memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh
impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau udara.
1.1 Skarifikasi: mengikir atau menggosok kulit biji dengan kertas
ampelas, melubangi kulit biji dengan pisau, menggoncang benih untuk benih-benih
yang memiliki sumbat gabus. Hal ini bertujuan untuk melemahkan biji yang keras,
sehingga lebih permeabel terhadap air atau udara.
1.2. Tekanan: memberi tekanan hidraulik 2000 atm pada 18ºC selama 5-20
menit sehingga dapat meningkatkan perkecambahan sebesar 50-80%. Efek tekanan
akan terlihat setelah benih-benih tersebut dikeringkan dan disimpan
.
2. Perlakuan Kimia
Perlakuan ini dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti asam sulfat
dan asam nitrat dengan konsentrasi pekat agar kulit biji menjadi lebih lunak
sehingga air dengan mudah terserap. Bahan kimia lain yang juga sering digunakan
adalah : potassium hydroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat, dan
thiourea. Disamping itu dapat pula digunakan hormon tumbuh untuk memecahkan dormansi
pada benih, antara lain adalah: cytokinin, giberelin, dan auxin (contoh: Indole
Acetic Acid).
3. Perlakuan Perendaman dengan Air
Menurut Sadjad (1977), Perlakuan
ini dengan cara merendam benih dengan air panas pada suhu perendaman dan lama perendaman
tertentu agar kulit biji lebih mudah dalam proses penyerapan air
(imbibisi).
2.2 Metabolisme Perkecambahan Benih
Menurut Parotta, (1992). Proses perkecambahan benih merupakan suatu
rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia.
Menurut
Suseno, (1974).Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses
penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma.
Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya
tingkat respirasi benih. Tahap ketigamerupakan tahap di mana terjadi penguraian
bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang
melarut dan ditranslokasikan ke titik tumbuh.
Menurut Suseno, (1974). Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan
yang telah diuraikan tadi di daerah yang mudah menggandakan atau membelah diri
(meristematik) untuk menghasilkan energi bagi pembentukan komponen dan
pertumbuhan sel-sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui
proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik tumbuh.
Sementara daun belum dapat berfungsi sebagai organ untuk fotosintesa maka
pertumbuhan kecambah sangat tergantung pada persediaan makanan yang ada dalam
biji.
Menurut Suseno, (1974). Penyerapan
air oleh benih yang terjadi pada tahap pertama, biasanya berlangsung sampai
jaringan mempunyai kandungan air 40-60% (atau 67-150 % atas dasar berat kering). Dan
akan meningkat lagi pada saat munculnya radicle (akar-akar yang baru muncul
dari suatu perkecambahan) sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang
tumbuh mempunyai kandungan air 70-90% (Ching, 1972). Jaringan penyimpanan pada
benih dapat menyimpan 80% protein yang berbentuk kristal, sedang sisanya terbagi
dalam nuclei (inti), mitochondria (lokasi sintesis ATP), protoplastid (unsur
pembentuk sel hidup), microsome (butiran kecil yang terdapat dalam poliplasma)
dan dalam cytosol (cairan dalam sitoplasma)
Bagian-bagian biji legum pada fase pertumbuhan diantaranya:
Akar : sumbu untuk tumbuhnya
batang
Calon akar : yang akan menjadi akar
Plumulae : bagian yang pertama
tumbuh pada saat pertunasan
Hypocotyl : Bagian di bawah kotiledon
Epicotyl : Bagian di bawah
kotiledon
2.3 Pengujian Benih
Menurut Sadjad (1977). Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu
atau kualitas dari suatu jenis atau kelompok benih. Keterangan tersebut
tentunya akan sangat bermanfaat bagi produsen, penjual maupun konsumen benih.
Karena mereka bisa memperolehinformasi yang dapat dipercaya tentang mutu benih
tersebut. Pengujian benih dilakukan dilaboratorium untuk menentukan baik mutu
fisik maupun mutu fisiologik suatu jenis atau kelompok benih. Pengujian
terhadap mutu fisik benih mencakup kegiatan pengambilan contoh benih, pengujian
terhadap kemurnian benih, kadar air benih dan berat 1000 butir benih. Sedangkan
pengujian terhadap mutu fisilogik benih mencakup kegiatan pengujian daya
kecambah, kekuatan tumbuh, dan kesehatan benih. Uji daya hidup benih
(vigoritas) dapat dilakukan secara langsung dengan mengamati dan membandingkan
unsur-unsur tumbuh penting dari benih pada suatu periode uji tertentu. Struktur
pertumbuhan yang dinilai terdiri dari akar, batang dan daun. Uji daya hidup
benih dapat pula dilakukan secra tidak langsung, yaitu dengan mengukur
aktivitas metabolisme benih misalnya dengan menggunakan uji Tetrazolium.
Menurut Sadjad (1977) tujuan utama dari analisis kemurnian benih adalah:
1.
untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan
diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih.
2.
identitas dari berbagai species
benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam contoh. Untuk analisis
kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 4 komponen sebagai berikut:
a)
Benih murni
b)
Benih rusak
c)
Benih species lain.
d)
Benih gulma
e)
Bahan lain, kotoran.
Benih murni:
Menurut Sadjad (1977). Dalam pengertian benih murni termasuk semua
varitas dari species yang dinyatakan oleh pengirim atau berdasarkan penemuan
dengan uji laboratorium, yang menyatakan benih tersebut masak dan utuh Benih rusak: Yang termasuk ke dalam kategori
benih murni dari suatu species adalah: Benih yang berukuran kecil, mengerut,
tidak masak, Benih yang telah pecah dari kulitnya. Benih spescies lain: Komponen
ini mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut dalam contoh dan tidak
dimaksudkan untuk diuji. Kumpulan rumput dan akar liar: Mencakup semua benih
ataupun bagian vegetatif tanaman yang termasuk dalam kategori gulma. Juga
pecahan gulma yang berukuran setengah atau kurang dari setengah ukuran yang sesungguhnya
tetapi masih mempunyai embrio. Bahan anorganik: Termasuk semua pecahan benih
yang tidak memenuhi persyaratan baik dari komponen benih murni, benih species
lain maupun gulma; partikel-partikel tanah, pasir, sekam, jerami dan
bagian-bagian tanaman seperti ranting, daun dan lain-lain.
2.4 Persentase Perkecambahan
Menurut Sadjad (1977). Persentase Perkecambahan adalah banyaknya semaian
bibit normal untuk menghitung periode tes (yang dirata-ratakan atas tiga
ulangan) (Prodonoff, 1973). Indeks mutu benih nantinya bermanfaat, untuk
mengetahui kombinasi hasil antara analisis kemurnian dan test perkecambahan,
dinyatakan sebagai Persentase kemurnian hidup benih (Pure Live Seeds). P.L.S=
% Berat benih murni X % perkecambahan benih murni.
2.5 .Biji
Menurut Hidayat.
(1995).Merupakan sumber makan
yang penting bagi hewan dan manusia. Diantara agiospermae,poceae paling baying
menghasilkan pangan yang berasl dari biji. Fabeaceae menempati tempat kedua
dalam kepentingan itu. Selain untuk
panagan, biji menjadi sember minuman (kopi,coklat, bir), obat, serat (kapas),
dan minyak yang digukan dalam industry
2.6 Bagian
Biji
Menurut Hidayat.
(1995). Biji di bentuk dengan
adanya perkembangan bekal biji.pada saat pembuahan. Pada saat pembuahan, tabung
sering masuk sering masuk kantong embrio dsn mempati dua buah inti gamet jantan
padanya. Satu di antranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu
kedua inti polar atau hasil penyatuannya,yakni inti sekunder.
Menurut Hidayat.
(1995).Embrio adalah sporofil
muda yang tidak segera melanjutkan pertumbuannya,melainkan masuk masa istirahat
(dorman).saat itu biasanya biji tahan stress:kekurangan air, panas atau dingin
yang berlebihan , penekanan, dan serangan kimiawi
2.7 Perkembangan Biji
Menurut Hidayat.
(1995). Pembuahan ganda
merupakan rangsangan yang melalui peristiwa perkembangan yang menghasilkan
biji. Pertumbuhan dan diferensiasi bekal biji, kantung abrio,serta endospermdan
embrio berlansgung menurut stadium yang paling terkait serta mengikuti urutan
yang khas, setelah pembuahan, pertumbuhan bekal biji segera diikuti oleh
pertumbuhan endosperm. Peningktan volume endosperm berkitan ditambah kantng embrio. Embrio yang
akan menunjukan pertambhan ukuran dengan cepat setalelah endosperm mencapai
volume maksimal. Pada kapri, pertumbuhan embrio terjadi seiring dengan
penguraian volume endosperm sehingga embrio memenuhi kantung emberio sebelum
masa dormon.
2..8 Kulit Biji
Menurut Hidayat.
(1995). Biasanya Kulit biji
bereda-beda sehubugan dengan sipat khas biji,seperti jumblah dan tebal
integument, pola jaringan pembuluh, serta perubahan dala intergumen sewaktu
biji menjadi masak.
2.9 Pekembangan Edosperma
Menurut Cambell.
(2008).berkembang sebelum
embrio berkembang. Setelah fertilisasi ganda nucleus triploid pada sel tengah
ovul pembelah,bentuk sebuah ‘supersel’ multinukleat yang sekental susu. Masa cair ini endosperma
menjadi mltiseluler ketika situkinesis
membagi-bagi sitoplasma melalui bentuk mambran di antara nucleus-nukleus.
2.10 Perkembanagan Embrio
Menurut Cambell.
(2008).Sel terminal pada
ahirnya muncul sebagian embrio. Sel basal terus membelah, menghasilkan
rangkaian sel-sel yang di sebut suspensor, yang menabtkan ke embrio tumbuhan
induk.suspensor membantu mentransfer nutrient ke embrio dari tumbuhan induk dan
bebrapa spesies tumbuahn dari indosperma.
BAB III
METODELOGI PRATIKUM
3.1.Waktu Dan Tempat
Pratikum Ini
Dilaksanakan Pada Hari Jum’at, Tanggal 6 November
2015. Jam 08.00.-09.30 WIB Di Laboratorium Biologi. Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas
Islam Negri ( UIN ) Raden Fatah Palembang
3.2. Alat Dan Bahan
3.2.1
Alat
a) Polibag 6 Buah
b) Cawan Gelas
c) Gelas Petri
3.2.2 Bahan
a)
Biji
Jagung 10 Biji Zea mays
b)
Kacang Hijau 10 Biji vigna radiate L
c)
Tanah
Gembur Atau Tanah Hitam
d)
Tanah Rawa
e)
Air Comberan
f)
.
Pete Cina 10 Buah leuceana leucocephaphala
3.2.3. Cara kerja
a)
Rendam bji
lamoro,biji jagung, dan biji kacnag hijau
b)
Pilih biji-bijian
yang sudah di rendam kemudian tanaman di dalam polibag yang di tanah rawa, dan
tanah netral.
c)
Masukkan
jenis tanah tersebut ke dalam wadah (kolibek) sebanyak 6wadah.
d)
Masukkan
biji jagung,kacang hijau dan lamtoro di setiap wadah.
e)
Pindahkan
3 wadah ketempat terang dan 3 wadah ketempat gelap.
f)
Setiap
hari siram dengan air limbah.
g)
Tunggu
perubahan biji setiap harinya.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1 Hasil
4.1.1 Pertumbuhan
biji di tempat terang
Tabel
1. Pertumbuhan biji kacang hijau di
tanah rawa
|
Biji ke-
|
Tinggi ( cm ) Hari ke-
|
Rata-Rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
0,1
|
0,4
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
0,25
|
Warna batang msih kekuningan hari selanjutnya
mulai tumbu daun dan batang bagian
bawah mulai berwarna merah
|
|
2
|
0,4
|
0,8
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
0,6
|
|
|
3
|
0,9
|
2,2
|
3,5
|
4,3
|
5,8
|
7,2
|
8,3
|
4,59
|
|
|
4
|
0,5
|
1,2
|
2,6
|
3,8
|
5,5
|
7,8
|
8,0
|
4,2
|
|
|
5
|
0,3
|
0,7
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
0,5
|
|
|
Jumlah
|
10,14
|
|
|||||||
Tabel 2. Pertumbuhan biji jagung di
tanah rawa
|
Biji ke-
|
Tinggi ( cm ) Hari ke-
|
Rata-Rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Hari pertama tidak ada perubahan
|
|
2
|
-
|
-
|
Mulai pecah
|
Mulai pecah
|
0,2
|
1,7
|
8,9
|
3,6
|
pada hari ke 3 dan 4 biji mulai pecah dan hri ke 5
muncul daun
|
|
3
|
-
|
-
|
-
|
Mulai pecah
|
Mulai pecah
|
Mulai pecah
|
Mati
|
-
|
Pada hri 1,2,dan 3 tidak ada perubahan hri ke 4
biji mulai pecah dan hri ke 7 biji mati
|
|
4
|
-
|
-
|
Mulai pecah
|
Mulai pecah
|
Mulai pecah
|
0,2
|
3,5
|
1,23
|
Hari ke 1 dan 2 belum ada perubahan pada hari ke 5
no 4 dan 5 mulai pecah
|
|
5
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Pada hari ke 1 dan 2 belum ada
|
|
Jumlah
|
4,83
|
|
|||||||
Tabel
3. Pertumbuhan biji lamtoro di tanah rawa
|
Biji ke-
|
Tinggi ( cm ) Hari ke-
|
Rata-Rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh sama sekali
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh sama sekali
|
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh sama sekali
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh sama sekali
|
|
5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh sama sekali
|
|
Jumlah
|
-
|
|
|||||||
Tabel 4. Pertumbuhan biji kacang hijau di tanah
humus
|
Biji ke-
|
Tinggi ( cm ) Hari ke-
|
Rata-Rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
0,2
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Hari pertama belum ada perubahan hri ke 2 mulai
tumbuh dan hari selanjutnya hilang
|
|
2
|
-
|
0,4
|
0,3
|
3,5
|
4,5
|
6,2
|
7,5
|
3,2
|
Hari pertama tidak ada perubahan dan hari
selnjutnya muai tumbuh
|
|
3
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Hari ke 1 dan 2 tidak ada perubahan dan
selanjutnya hilang
|
|
4
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Hari ke 1 dan 2 tidak ada perubahan dan
selanjutnya hilang
|
|
5
|
-
|
-
|
0,2
|
0,3
|
0,5
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Heri ke 1 tidak ada perubahan dan hari selanjutnya
mulai tumbuh
|
|
Jumlah
|
3,53
|
|
|||||||
Tabel 5. Pertumbuhan biji jagung di tanah humus
|
Biji ke-
|
Tinggi ( cm ) Hari ke-
|
Rata-Rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
-
|
Mulai pecah
|
0,6
|
3,5
|
4,7
|
2,93
|
Pada hri keempat biji mulai pecah dan selanjutnya
jagung mulai tumbuh
|
|
2
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Hari pertama dan kedua tidak ada perubahan dan
hari selanjutnya hilang
|
|
3
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Hari pertama dan kedua tidak ada perubahan dan
hari selanjutnya hilang
|
Tabel 6. Pertumbuhan biji lamtoro
di tanah humus
|
Biji ke-
|
Tinggi ( cm ) Hari ke-
|
Rata-Rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1,0
|
1,4
|
1,2
|
Hari pertama sampai hari ke lima belum tumbuh dan
pada hari ke 6 mulai tumbuh
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
0,8
|
0,9
|
0,85
|
Baru mulai tumbuh pada hari ke enam
|
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
0,2
|
1,7
|
2,9
|
1,6
|
Baru mulai tumbuh pada hari ke lima
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1,3
|
2,5
|
1,9
|
Baru mulai tumbuh pada hari keenam
|
|
5
|
-
|
-
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
Hilang
|
-
|
Pada hari ketiga objek yang diamati menghilang
|
|
Jumlah
|
5,55
|
|
|||||||
4.1.2 Tanaman
di tempat gelap
Tabel 1. Pertumbuhan kacang
hijau ditempat gelap pada tanah rawa
|
Biji
|
Tiggi (cm) hari ke
|
Rata-rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
0,5
|
1,5
|
2,1
|
2,5
|
11
|
16,5
|
21,6
|
7,9
|
Hidup, 2 lembar
daun, batang kecil
|
|
2
|
-
|
1
|
8
|
19
|
25
|
28,9
|
32
|
16,2
|
Hidup, 2 lembar
daun, batang kecil
|
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
6,2
|
12
|
14,3
|
4,6
|
Hidup, 2 lembar
daun, batang kecil
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
0
|
Tidak tumbuh atau
gagal
|
|
5
|
0,5
|
2,9
|
7,9
|
19,2
|
27,5
|
31
|
33,7
|
17,5
|
Hidup, 2 lembar
daun, batang kecil
|
|
Jumlah
|
9,24
|
|
|||||||
Tabel 2. Pertumbuhan kacang hijau ditempat gelap pada
tanah gembur
|
Biji
|
Tiggi (cm) hari ke
|
Rata-rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
0,5
|
1,5
|
6,5
|
14
|
20
|
25
|
27
|
13,5
|
Hidup, 2 lembar
daun
|
|
2
|
0,3
|
1,8
|
7
|
13
|
29
|
32,3
|
37
|
17,2
|
Hidup, 2 lembar
daun
|
|
3
|
0,3
|
1,2
|
7,4
|
14,5
|
23
|
26,1
|
30
|
14,6
|
Hidup, 2 lembar
daun
|
|
4
|
0,5
|
1,6
|
9,5
|
15,3
|
27,6
|
29,4
|
32
|
16,5
|
Hidup, 2 lembar
daun
|
|
5
|
0,5
|
2,3
|
6,3
|
14
|
26,6
|
30,3
|
34
|
16,2
|
Hidup, 2 lembar
daun
|
|
Jumlah
|
15,6
|
|
|||||||
Tabel 3. Pertumbuhan jagung ditempat gelap pada tanah
rawa
|
Biji
|
Tiggi (cm) hari ke
|
Rata-rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh atau
gagal
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tiak tumbuh atau
gagal
|
|
3
|
0,1
|
1,4
|
6,3
|
13
|
20,6
|
26,5
|
33,7
|
14,5
|
Hidup, 2 lembar,
|
|
4
|
0,1
|
1,4
|
5,5
|
13,5
|
20,4
|
29
|
36
|
15,1
|
Hidup, 2 lembar
daun dominan berwarna kuning pucat dari pada hijau
|
|
5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Hidup, 3 lembar
daun, dominan berwarna kuning pucat dari pada hijau
|
|
Jumlah
|
5,8
|
|
|||||||
Tabel 4. Pertumbuhan jagung ditempat gelap pada tanah
subur
|
Biji
|
Tinggi (cm) hari ke
|
Rata-rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh atau
gagal
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tiak tumbuh atau
gagal
|
|
3
|
0,1
|
1,1
|
4,4
|
8,5
|
13,1
|
17
|
22,5
|
9,5
|
Hidup, 2 lembar,
warna kuning
|
|
4
|
0,1
|
4,2
|
8,5
|
14,9
|
20,4
|
20
|
23
|
10,1
|
Hidup, 2 lembar,
warna kuning
|
|
5
|
-
|
0,5
|
3
|
7,5
|
14
|
19,6
|
22
|
9,5
|
Hidup, 2 lembar,
warna kuning
|
|
Jumlah
|
5,8
|
|
|||||||
Tabel 5. Pertumbuhan biji
lamtoro ditempat gelap pada tanah rawa
|
Biji
|
Tiggi (cm) hari ke
|
Rata-rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
3,9
|
6,5
|
10,5
|
11,8
|
12
|
6,3
|
Hidup
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh atau
gagal
|
|
3
|
-
|
-
|
3,2
|
3,2
|
6,5
|
8,4
|
9,1
|
4,3
|
Hidup
|
|
4
|
-
|
-
|
0,7
|
3
|
8
|
10,3
|
11
|
4,7
|
Hidup
|
|
5
|
-
|
-
|
2,7
|
4
|
8,2
|
10
|
11
|
5,1
|
Hidup
|
|
Jumlah
|
4,08
|
|
|||||||
Tabel 6. Pertumbuhan biji lamtoro ditempat gelap pada
tanah gembur
|
Biji
|
Tiggi (cm) hari ke
|
Rata-rata
|
Keterangan
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh atau
gagal
|
|
2
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tidak tumbuh atau
gagal
|
|
3
|
-
|
-
|
2
|
3,5
|
6,5
|
10,4
|
11,5
|
4,3
|
Hidup
|
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
3
|
4,7
|
Hidup, kulit biji
belum lepas
|
|
5
|
-
|
0,2
|
2,1
|
5
|
9
|
10,2
|
11
|
5,1
|
Hidup
|
|
Jumlah
|
2,62
|
|
|||||||
4.2.Pembahasan
4.2.1 Pembahasan pengamatan di tempat
terang
Dari
hasil pengamatan yang telah kami lakukan terbukti bahwa proses pertumbuhan di
tanah rawa lebih cepat tumbuh dibandingkan proses pertumbuhan di tanah humus,
pada pertumbuhan tumbuhan kacang hijau dan jagung. Sedangkan pada tumbuhan
lamtoro lebih cepat tubuh di tanah humus dan ditanah rawa tanamannya malah
tidak tumbuh sama sekali.
Perkecmbahan
biji terdapat 2 macam, yaitu perkecambahan epigeal dan perkecambahan
hypogeal.Perkecambahan epigeal adalah tumbuhnya hipokotil yang memanjang
sehingga plumula dan kotiledon terangkat ke permukaan tanah, contohnya tanaman
kacang hijau. Perkecambahan hypogeal adalah tumbuhnya epikotil yang memanjang
sehingga plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas permukaan
tanah sehingga kotileden tertinggal di
dalam tanah contohnya tanaman jagung
Pada hasil
pengamatan ditanah rawa pada biji jagung didapatkan rata-rata 4,83 cm. pada
tanaman kacang hijau di tanah rawa didapatkan rata-rata tinggi 10,14 cm dan
pada biji lamtoro tidak didapatkan rata-rata karena bijinya tidak tumbuh sama
sekali.
Pada hasil
pengamatan ditanah humus pada biji kacang hijau didapatkan rata-rata 3,53 cm.
pada tanaman jagung didapatkan rat-rata 2,93 cm. dan pada biji lamtoro didapat
rata-rata 5,5 cm.
Selain
dipengaruhi oleh tanah pertumbuhan tanaman juga dipengaruhi oleh factor
internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah gen dan hormon. Faktor
eksternalnyaadalah air, mineral, suhu, kelembapan, cahaya, dan nutrisi.
Perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang
lebih dewasa. Pertumbuhan adalah salah satu proses bertambahnya ukuran, baik
volume, bobot dan jumlah sel yang bersifat irrevesible ( tidak dapat kembali
asal ). Ada dua faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan
yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksernal berupa cahaya
matahari,suhu, dan air. Faktor internal berupa gen dan hormon.
Pada pengamatan hasl ditanah rawa pada biji di dapatkan rata-rata 5,9 cm,
Pada tanaman kacang hijau di tanah rawa didapatkan rata-rata 4,08 cm. Pada
hasil pengamatan ditanah gambar pada biji jagung idapatkan rata-rata 5,8 cm .
Pada biji lamtoro ditanah gembur di dapatkan rata-rata 2,62 cm.
Pertumbuhan biji juga di
pengaruhi oleh jenis tanah biji yang diletakkan ditanah gembur dan tanah rawa
lebih cepat tumbuh dibandingkan biji ditanah rawa. Dalam hasil prktikum yang kami lakukan dan
di amati itu banyak sekali suatu perubahan baik
dan di amati Setelah di amati ketiga tumbuhan tersebut banyak perbedaan,
dari batang, daun,sampai ada juga yang mati. Beberapa factor
yang menyebabkan perbedaan pertumbuhan diantara ketiga tumbuhan tersebut yaitu
:
a. Faktor Cahaya
Cahaya bermanfaat bagi tumbuhan terutama
sebagai energi yang nantinya digunakan untuk proses fotosintesis. Cahaya juga
berperan dalam proses pembentukan klorofil. Akan tetapi cahaya dapat bersifat
sebagai penghambat (inhibitor) pada proses pertumbuhan, hal ini terjadi karena
cahaya dapat memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya.
Sehingga, pada proses perkecambahan yang diletakkan di tempat yang gelap akan
menyebabkan terjadinya etiolasi dimana kacang hijau tumbuh lebih panjang namun
tidak subur pertumbuhannya.
b. Faktor Suhu
Suhu yang cukup (suhu
ruangan) dapat mengoptimalkan kerja hormon-hormon tumbuhan karena kerja
enzim/hormon (faktor internal) tumbuhan sangat dipengaruhi oleh suhu
lingkungan.Semakin panas atau dingin suhu ruangan maka hormon tumbuhan semakin
tidak bekerja.
c. Faktor Air dan
Nutrisi :
Menurut Anima (2013)Air sangat
diperlukan oleh tumbuhan sebagai media terjadinya reaksi kimia, dan tanaman
hijau yang kekurangan air lambat laun akan layu. Rupanya dalam percobaan,
detergen tidak hanya memberi air sebagai media reaksi kimia namun juga memberi
nutrisi karena mengandung Asam Nitrat dan Natrium Trifosfat yang juga ada dalam
kandungan pupuk untuk menyuburkan tanaman
Menurut Anima
(2013).Keberhasilan tumbuahn itu sangat tergantung pada tanah yang sangat subur
atau tidak, dan juga tempat tumbuhan itu tumbuh. Namun biji yang jatuh dan
kecambah tumbuhan induk hanya memiliki sedikit kesempatan untuk yang sangat
berhasil dalam besaing memperebutkan itu tumbuhan butrien. Agar tumbuh dengan
baik dalam penanaman dengan baik, biji harus disebarkan sejauh-jauhnya agar
mendapatkan nutrisi tanah dan cahaya matahai yang sangta cukup dalam suatu
penanaman
Menurut Stiti, B. (1995)Pembuahan
ganda merupakan rangsangan yang melalui peristiwa perkembangan yang
menghasilkan biji. Pertumbuhan dan diferensiasi bekal biji, kantung abrio,serta
endospermdan embrio berlansgung menurut stadium yang paling terkait serta
mengikuti urutan yang khas, setelah pembuahan, pertumbuhan bekal biji segera
diikuti oleh pertumbuhan endosperm. Peningktan volume endosperm berkitan ditambah kantng embrio. Embrio yang
akan menunjukan pertambhan ukuran dengan cepat setalelah endosperm mencapai
volume maksimal. Pada kapri, pertumbuhan embrio terjadi seiring dengan penguraian
volume endosperm sehingga embrio memenuhi kantung emberio sebelum masa dormon
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan
pratikum yang telah dilaksanakan tentang pegamatan biologi sebagai ilmu.
Sebagaimna kita membahas tentang pertumbuhannya,tanaman lain memelikan
factor-faktor internal untuk tumbuh juga menumbuhkan factor ekternal berupa
kecukupan suhu, air, cahaya, dan tentunya nutrisi hal ini dibuktikankan pencobaan air comberan dimana tanaman lebih
subur bila diberi air comberanyang selain mengandung air,juga megadung pH yang
tinggi). Bila ada ketiak seimbangan salah satu factor tersebut, maka tanaman
tidak akanmencapai pertumbuhan yang optimal.
5.2 Saran
Sebelum
penanaman, terlebih dahulu dilakukan perendaman untuk memecah dormansi biji itu
sendiri. Jadi, sebaiknya perendaman lebih dimaksimalkan agar berhasil
memecahkan dormansi biji yang akan ditanam. Sehingga kesalahan pengamatan lebih
dapat diminimalisir.
Setelah
itu pilih biji kacang yang masih segar sehingga dapat memaksimalkan
penelitian. Kondisi pencahayaan lebih dimaksimalkan baik penempatan di tempat
terang maupun gelap dan dalam melakukan
percobaan, hemdaknya memperhatikan dalam kualitas biji-bijian.
DAFTAR PUSTAKA
Cambell. 2008. Biologi Edisi Kehidupan jilid 2.Jakarta. Erlangga
Hidayat, S. 1995. Anatomi Tumbuhan berbiji . ITB Bandung
Whitesell CD.
1974. Leucaena leucocephala, leucaena.
In: Schopmeyer CS, tech. coord. Seeds of woody plants in the United States. Agric.
Handbk. 450. Washington, DC:
USDA Forest Service: 491B493. 21 Desember 15. Jam 13:00 WIB
__________ .2008. Studi aspek
fisiologis dan biokimia perkecambahan benih jagung (zea mays l.) Pada umur
penyimpanan benih yang berbeda. http://www.jurnal perkecambanjagung.pdf.com.21 Desember 15. Jam 13:00 WIB
__________ .2006. Pengaruh Jenis Media Perkecambahan dan
Perlakuan Pra Perkecambahan terhadap Viabilitas Benih Mengkudu (Morinda
citrifolia L.) dan Hubungannya dengan Sifat Dormansi Benih. http://www.jurnal perkecambanlamtoro.pdf.com Bul. Agron Vol. (34) No. (2) 119 – 12320.
Hari 21 Desember 15. Jam 13:00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar