LAPORAN
PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM
JARINGAN

Disusun
Oleh :
Nama : Syahirul Alim
Nim : 2017411019.P
Dosen : Yunita Panca Putri, S.Si., M.Si
PROGRAM
STUDI BIOLOGI
FAKULTAS
MIPA
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk
dan fungsi sama. Jaringan pada tumbuhan dan hewan berbeda. Sekumpulan jaringan
akan membentuk organ. Cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan adalah
histologi. Sedangkan cabang ilmu biologi
yang mempelajari jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah
histopatologi. Jaringan pada tubuh tumbuhan
dikelompokkan berdasarkan tempatnya dalam tumbuhan, tipe sel, fungsi,
asal-usul, dan tahap perkembangannya.
Berdasarkan jumlah tipe sel penyusunnya, jaringan
dibedakan menjadi jaringan sederhana dan jaringan rumit. Jaringan sederhana
bersifat homogeni, hanya terdiri atas satu tipe sel sedangkan jaringan rumit
bersifat heterogen, terdiri atas dua atau lebih sel. Parenkim,
kolenkim,sklerenkim adalah jaringan sederhana, sedangkan xilem, floem,dan
epidermis adalah jaringan rumit. Di tahun 1875, Sachs membagi jaringan dalam
tiga system berdasarkan kesinambungan topografi yakni sistem dermal, sistem
jaringan pembuluh, dan sistem jaringan dasar. Sistem dermal meliputi epidermis,
yakni pelindung primer (pertama) bagi bagian luar tubuh, dan periderm, yang
menggantikan epidermis pada tumbuhan yang mengalami pertumbuhan sekunder..
sistem jaringan pembuluh terdiri dari xilem yakni yang mengangkut air dan garam
dalam tanah, dan floem yang mengangkut hasil fotosintesis.
Sistem jaringan dasar mencakup jaringan yang
membentuk dasar bagiani tumbuhan, namun sekaligus juga dapat menunjukkan
spesialisasi. Jaringan dasar utama adalah parenkim dengan semua ragamnya,
kolenkim, yakni jaringan yang berdinding tebal dan sel tetap hidup, sklerenkim
yakni jaringan berdinding tebal dan sering kali berkayu sehingga keras dengan
sel yang biasanya mati
Dalam tubuh tumbuhan, jaringan tersebar dalam pola
khas bagi kelompok tumbuhan yang bersangkutan. Pada dasarnya ada kemiripan
dalam pola penyebaran jaringan pada tumbuhan dikotil sebab jaringan pembuluh
tertanam dalam jaringan dasar dan sistem dermal merupakan penutup di sebelah
luar. Pada tumbuhan dikotil, misalnya jaringan pembuluh batang membentuk
silinder berongga. Rongga tersebut terisi jaringan dasar (empulur) dan ada pula
yang berada diantara silinder pembuluh dan system dermal (korteks). Pada daun,
jaringan pembuluh membentuk system yang beranastomosis dalam jaringan dasar
yang terdiferensiasi sebagai mesofil pada akar dapat ditentukan silinder
jaringan pembuluh yang seringkali tidak mengelilingi empulur (korteks).
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum jaringan
ini yaitu untum mengetahui jenis jenis jaringan dan lemak dari jaringan serta mengathui bentuk anatomi dari jaringan
.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jaringan Kolenkim
Kolenkim seperti
halnya sklerenkim, merupakan jaringan mekanik yang bertugas menyokong
tumbuhan.Bagian tumbuhan yang tumbuh dengan lambat mengalami pertumbuhan
sedikit saja sehingga dukungan oleh turgor dalam sel parenkim sudah cukup.
Namun kebanyakan batang tumbuh dengan cepat dan bagian yang tumbuh itu sering
menjadi panjang dan ramping. Struktur seperti itu membutuhkan jaringan
penyokong yang berfungsi di saat organ yang bersangkutan tumbuh dan harus
disusun oleh sel yang juga dapat memanjangkan dirinya sendiri.Persyaratan itu
dipenuhi oleh kolenkim (Hidayat, 1995).
Kolenkim terbentuk oleh sejumlah sel memanjang
yang menyerupai sel prokambium dan berkembang dalam stadium awal
promeristem.Sel kolenkim adalah sel hidup, bentuknya sedikit memanjang, dan
pada umumnya memiliki dinding yang tak teratur penebalannya.Berbeda dengan sel
sklerenkim yang memiliki dinding sekunder, sel kolenkim hanya memiliki dinding
primer, lunak, lentur tak berlignin. Sebaliknya, dinding sekunder pada
sklerenkim, bersama dengan dinding primernya, dapat berlignin (mengandung zat
kayu) dan karenanya menjadi keras dan kaku.
Sel kolenkim tetap
memiliki protoplas aktif yang mampu melenyapkan penebalan dinding bila sel
dirangsang untuk membelah seperti pada waktu sel tersebut membentuk cambium
gabus atau menanggapi luka.Dinding sel sklerenkim lebih bertahan dan tak dapat
segera dilenyapkan, meskipun protoplasnya masih ada.Kebanyakan sel sklerenkim
kehilangan protoplasnya setelah dewasa.
Sebagaimana
diutarakan di atas, kolenkim bertugas sebagai jaringan penyokong pada bagian
tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan pada tumbuhan basah, bahkan terdapat pada
organ yang telah dewasa.Kolenkim bersifat plastis dan dapat merenggang secara
permanen bersama dengan pertumbuhan organ tempatnya berada.
Kolenkim, seperti
parenkim, dapat mengandung kloroplas dan dapat pula berisi tannin.Dinding sel
kolenkim dapat berlignin atau menjadi lebih tebal seperti pada
sklerenkim.Namun, karena kolenkim terdiri dari sel hidup maka dinding sel
kolenkim dapat menjadi tipis lagi dan sel bersifat meristematik.
Kolenkim merupakan
jaringan penyokong pada tumbuhan. Secara ontogeni, perkembangan kolenkim mirip
prokambium dan tampak pada tahap yang sangat awal dari diferensiasi meristem
atau dari sel isodiametris meristem dasar.Kolenkim terdiri atas sel hidup yang
berbentuk agak memanjang dan biasanya berdinding tebal.Kolenkim berfungsi
sebagai jaringan penyokong pada organ muda yang sedang tumbuh, pada tumbuhan
herbal (herbaceus), dan bahkan pada organ dewasa.Kolenkim bersifat plastis
sehingga dapat meregang secara irreversibel dengan adanya pertumbuhan
organ.Kolenkim dewasa kurang plastis, lebih kuat, tetapi lebih mudah rusak
daripada kolenkim muda. (Hidayat, 1995)
Ada hubungan
fisiologi dan morfologi antara kolenkim dan parenkim.Pada tempat kedua jaringan
tersebut berdampingan terdapat bentuk peralihan atara tipe kolenkim dan
parenkim.Kolenkim seperti halnya parenkim dapat berisi kloroplas.Kolenkim yang mirip dengan parenkim berisi banyak
kloroplas, sedangkan kolenkim khusus yang terdiri atas sel yang sempit
memanjang, hanya sedikit atau tidak mengandung kloroplas sama sekali. Sel
kolenkim dapat juga berisi tanin.(Hidayat, 1995).
Pada irisan melintang kolenkim segar, dinding
selnya tampak seperti nakre. Dinding kolenkim tumbuhan yang terkena angin lebih
tebal.Dinding sel terdiri atas selulosa, sejumlah besar pektin, dan
hemiselulosa, tetapi tidak mengandung lignin.Senyawa pektinnya bersifat
hidrofil sehingga dinding kolenkim banyak mengandung air.Dinding kolenkim yang
menebal sekunder dapat menjadi tipis dan kemudian selnya menjadi meristematis
lagi dan mulai membelah.Hal ini terdapat pada jaringan kolenkim yang membentuk
felogen.Noktah primer sering kali terdapat dalam dinding kolenkim (Mulyani,
2006).
Kolenkim terdapat di
dalam batang, daun, bunga, buah, dan akar.Kolenkim berkembang terutama jika
mendapat sinar.Kolenkim tidak terdapat dalam batang dan daun Monokotil yang
sklerenkimnya berkembang pada umur awal. Kolenkim biasanya dibentuk tepat di
bawah epidermis, tetapi dalam hal khusus terdapat satu atau dua lapisan
parenkim diantara epidermis dan
kolenkim. Apabila kolenkim tepat berada di bawah epidermis, seringkali dinding
epidermis menebal dengan cara yang sama dengan dinding sel kolenkim.Pada
batang, kolenkim terdapat sebagai suatu silinder atau berbentuk pita memanjang
(membujur).Pada daun, kolenkim terdapat pada satu atau kedua sisi tulang daun,
dan sepanjang tepi daun.(Mulyani,2006).
Ukuran dan bentuk
sel kolenkim beragam.Ada yang berbentuk prisma pendek, mirip sel parenkim, atau
panjang seperti serabut dengan ujung meruncing.Sel kolenkim yan terpanjang
dijumpai di daerah pusat untaian kolenkim, dan yang terpendek di daerah
tepi.Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut, untaian kolenkim dibentuk oleh
serangkaian sel yang membelah memanjang mulai dari pusat untaian; setelah
pembelahan, sel terus memanjang sehingga sel pusat menjadi yang terpanjang
karena yang pertama kali dibentuk dan meningkat sampai panjang maksimum.Selama
perkembangan untaian kolenkim ini juga terjadi pembelahan mendatar (horisontal)
(Mulyani,2006)
2.2 Ciri-ciri Jaringan Kolenkim
Kolenkim dewasa
adalah suatu jaringan lentur yang kuat, terdiri atas sel panjang yang tumpang
tindih (panjangnya dapat mencapai 2 mm) dengan dinding tebal yang tidak
berlignin.Kekuatan meregang sel kolenkim sebanding dengan serabut.Pada bagian
tumbuhan yang tua, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah menjadi sklerenkim
dengan pembentukan dinding sekunder yang berlignin.Terpusatnya lignin terjadi
terutama pada lapisan dinding terluar.Biasanya disimpulkan bahwa kolenkim
adalah jaringan penunjang yang muda. Apabila kolenkim terdapat pada organ yang
berkanjang (persisten) untuk periode yang lama, kolenkim akan mengalami
sklerifikasi (Mulyani,2006).
Pada bagian tumbuhan
yang kuat, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah menjadi sklerenkim dengan
pembentukan dinding sekunder yang berlignin. Pada tumbuhan dikotil misalnya,
tangkai dan batang Medicago sativa, Eryngium maritimun, Viscum album dan Salvia
officinalis kolenkim berubah menjadi sklrenkim (Mulyani, 2006)
2.3 Letak Jaringan Kolenkim
Kolenkim dapat
ditemukan pada batang, daun, serta pada bagian bunga dan buah.Pada akar,
kolenkim bisa dibentuk, terutama bila akar didedahkan kepada cahaya.Di banyak
monokotil tak ditemukan kolenkim jika sklerenkim dibentuk sejak tanaman
muda.Biasanya kolenkim terdapat langsung di bawah epidermis.Pada batang,
kolenkim bisa membentuk silinder penuh atau tersusun menjadi berkas yang
memanjang sejajar sumbu batang.Pada daun, kolenkim terdapat di kedua sisi
tulang daun utama atau pada satu sisi saja, serta terdapat pula sepanjang tepi
daun. (Hidayat, 1995).
Struktur dan Susunan
Jaringan Kolenkim dan Macam-macamnya Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam.Sel
dapat berupa prisma pendek atau bisa pula panjang seperti serat dengan ujung
meruncing, namun antara kedua bentuk tersebut terdapat bentuk peralihan (Mulyani,
2006).
Dinding sel kolenkim
terdiri atas lapisan yang berselang seling, kaya akan selulosa dengan sedikit
pektin. Air dalam seluruh dinding sel kurang lebih 67%. Roelofsen (1959)
menyatakan bahwa di dalam Petasites, dinding sel kolenkim berisi 45% pektin,
35% hemiselulosa, dan 20% selulosa. Dinding sel kolenkim Petasites ini terdiri
atas 7-20 lamela yang bergantian/berseling antara lamela yang mengandung banyak
seluosa dan lamela yang mengandung sedikit selulosa.Semakin mendekati lumen
sel, selulosanya semakin banyak.
Menurut tipe
penebalan dindingnya, kolenkim dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai
berikut: (Hidayat, 1995).
a) Kolenkim sudut (angular kolenkim)
Penebalan dinding
sel kolenkim ini terjadi pada
sudut-sudut sel. Pada penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada
tempat bertemunya tiga sel atau lebih, seperti yang terdapat pada tangkai
Rumex, Vitis, Begonia, Coleus, Cucurbita, Morus, Beta, dan pada batang Solanum
tuberosum dan Atropa belladonna.
b) Kolenkim lamela (lamelar kolenkim) atau
kolenkim papan
Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi
pada dinding tangensial sel. Kolenkim lamela terdapat pada korteks batang
Sumbucus nigra, Rhamnus, dan tangkai Cochlearia armoracia
c) Kolenkim lakuna (lacunar kolenkim)
Penebalan dinding
sel kolenkim ini terjadi pada dinding-dinding yang berbatasan dengan ruang
antarsel. Kolenkim lakuna terdapat pada tangkai beberapa spesies Compositae,
misalnya Salvia, Malva, Athaea, dan
Asclepias dan pada batang Ambrosia
d) Kolenkim cincin
Istilah kolenkim
cincin diberikan oleh Duchaigne (1995,) untuk tipe kolenkim yang lumen selnya
pada penampang melintang tampak melingkar. Muller (1890), menyebutnya knorpel-collenchyma.
Pengamatan terhadap kolenkim cincin dewasa tampak adanya penebalan dinding sel
secara terus menerus sehingga lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.
Dinding sel kolenkim merupakan contoh dinding
primer yang amat menebal, sebab penebalan terjadi pada saat sel masih tumbuh
membesar.Dinding sel meluas dan sekaligus menebal pula.Dinding kolenkim terdiri
dari lapisan yang kaya selulosa dan miskin pektin, bergantian dengan lapisan
yang miskin selulosa dan kaya pektin. Dalam bahan segar, kandungan air dari
seluruh dinding sekitar 67%. Hal itu disebabkan karena pektin yang bersifat
hidrofil. Pada preparat yang dibuat dari sayatan segar dan dilihat dalam air,
kandungan air menyebabkan dinding membengkak sehingga tampak amat jelas,
berkilauan seperti dinding sebelah dalam cangkang kerang (nacre).Dinding sel
kolenkim terdiri atas lapisan yang berselang-seling kaya selulosa dengan
sedikit pektin, dan lapisan lain dengan sedikit selulosa dan kaya pektin. Pada
bahan segar, ai dalam seluruh dinding sel lebih kurang 67% (Mulyani, 2006).
Menurut Czaja
(1961), lamela melintang pada penebalan dinding kolenkim pada banyak kebanyakan
tumbuhan dapat dideteksi dengan alat mikroskop cahaya terpolarisasi. Chafe
(1970) ,telah mengamati bahwa orientasi mikroserabut selulosa dalam lamela yang
berurutan bergantian melintang dan membujur. Selama perkembangan penebalan
dinding, terjadi penambahan lapisan mikroserabut mengelilingi seluruh sel
sehingga memperluas keliling sel.
Pada sebagian besar
tumbuhan Dikotil, misalnya tangkai dan batang Medicago sativa, Eryngium
maritimum, Viscum album, dan Salvia officinalis, kolenkim berubah menjadi
sklerenkim. Menurut Duchaigne (1955), sklerefikasi ini terjadi melalui
pembentukan lamela secara sentripetal dan sentrifugal. Selama pertumbuhan
lamela, dibentuk lapisan yang kaya selulosa, yang kemudian banyak mengandung
lignin.Lamela yang mengandung lignin tampak dengan arah sentrifugal
mengelilingi lapisan pertama.Sebagai hasil perkembangan sentrifugal, lamela
berlignin yang mengandung senyawa pektoselulosa pada dinding kolenkim tidak
tampak.Sering kali sebagian senyawa ada yang masih tertinggal setelah dinding
mengalami sklerifikasi.Lamela tambahan berkembang ke arah sentripetal dan lumen
sedikit demi sedikit mengecil.
Struktur Sehubungan
dengan Fungsi Kolenkim tampaknya beradaptasi, terutama untuk menyokong batang
serta daun yang sedang tumbuh.Dinding sel menebal amat dini ketika pucuk
berkembang, namun penebalan itu bersifat plastis dan mampu meluas.Sebab itu,
penebalannya tidak menghalangi pemanjangan batang atau daun.Pada perkembangan
selanjutnya, kolenkim dapat tetap bertahan sebagai jaringan penyokong (terjadi
pada banyak macam daun dan pada batang beberapa tumbuhan basah) jika bagian
organ tempat kolenkim berada tidak membentuk sklerenkim. Dalam bagian tanaman
yang sedang berkembang dan terdedah kepada tekanan mekanik (angin, pemberian
bobot yang digantungkan pada ranting), maka penebalan dinding terjadi lebih
awal serta dinding terjadi lebih awal serta dinding menjadi lebih tebal dibandingkan
dengan bagian tanaman yang tidak terpengaruh tekanan seperti itu. (Hidayat,
1995).
Kolenkim dewasa
merupakan jaringan yang kuat dan lentur, terdiri dari sel panjang yang saling
timpa (dapat mencapai panjang sampai 2 mm) dengan dinding tebal tidak
berlignin.Pada tanaman tua, dinding sel kolenkim mengeras atau berlignin serta
berubah menjadi sel sklerenkim. hdyt
2.4 jaringan sklerenkim
Jaringan sklerenkim
merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh tumbuhan yang telah
dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel-sel mati yang seluruh bagian dindingnya mengalami penebalan sehingga kuat,
sel-selnya lebih kaku daripada sel kolenkim, sel sklerenkim tidak dapat memanjang.
Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penguat dengan dinding sekunder
yang tebal. Umumnya, jaringan sklerenkim terdiri atas zat lignin dan tidak
mengandung protoplas. Sel-sel sklerenkim hanya dijumpai pada organ tumbuhan
yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Jaringan sklerenkim
terdiri atas serat-serat sklerenkim (fiber) dan sel-sel batu (sklereid) (Hidayat.1995).
a) Serat-serat sklerenkim
Serat-serat
sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian atau dalam bentuk lingkaran. Di dalam
berkas pengangkut, serat-serat sklerenkim biasanya merupakan suatu seludang
yang berhubungan dengan berkas pengangkut atau dalam kelompok yang tersebar di
dalam xilem dan floem. Serat-serat sklerenkim mempunyai ukuran antara 2 mm–25
cm. Beberapa spesies tumbuhan mempunyai serat-serat sklerenkim yang bernilai
ekonomis tinggi, misalnya serat manila yang digunakan sebagai bahan dasar tali.
b)
Sel-sel batu
Sel-sel batu
terdapat dalam semua bagian tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh
tapis, dalam buah atau dalam biji. Pada tempurung kelapa (Cocos nucifera)
hampir seluruhnya terdiri atas sel-sel batu. Sel-sel batu pada buah dapat
memberikan ciri khas, misalnya tekstur berpasir pada kulit buah dan daging buah
pir (Pyres communis) atau butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji
(Psidium guajava).
a.
Ciri-ciri jaringan sklerenkim
Ciri-ciri dari
jaringan sklerenkim, yaitu :
Selnya mati, Dindingnya berlignin (zat kayu) dan mengandung
selulosa dinding sel. Sehingga sel-selnya menjadi kuat dan keras. Penebalan
lignin terletak pada dinding sel primer dan sekunder dan dinding menjadi sangat
tebal. Umumnya terdapat pada batang
dan tulang daun. Jaringan sklerenkim
tersusun dari sel-sel dengan dinding yang keras. Hanya ada sedikit ruang untuk protoplas
yang nantinya hilang jika sel dewasa. Sel-sel yang terdiri dari jaringan
sklerenkim mungkin terbagi menjadi 2 tipe : serat (fibre) atau sklereid. Serat
atau fibre biasanya memanjang dengan dinding berujung meruncing pada penampang
membujur (longitudinal section; L.S.).
Sedangkan sklereid atau sel batu. Batok kelapa adalah contoh yang baik
dari bagian tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid. Terdapat pada bagian keras buah dan biji.
Bagian bergerigi pada buah pir disebabkan oleh sel-sel batu (stone cell,
sklereid).
Struktur dan Fungsi
jaringan sklerenkim. Jaringan sklerenkim merupakan jaringan mekanik yang hanya
terdapat pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan
perkembangan atau organ tumbuhan yang telah tetap. Sklerenkim berfungsi untuk
menghadapi segala tekanan sehingga dapat melindungi jaringan-jaringan yang
lebih lemah, melindungi tubuh tumbuhan dari kerusakan mekanik, melindungi
tumbuhan dari serangan hewan, dan sebagai alat penyokong dan pelindung
tumbuhan. Sklerenkim tidak mengandung protoplas, sehingga sel-selnya telah
mati. Dinding selnya tebal karena berlangsung penebalan sekunder sebelumnya
yang terdiri atas zat lignin. Jaringan sklerenkim dibedakan menjadi dua, yaitu
:
a) Serat-Serat Sklerenkim (Fibers)
Serat-serat
sklerenkim terdiri atas sel-sel yang berukuran panjang ± 2 mm dan samping yang
ujungnya runcing. Serat-serat sklerenkim merupakan sel-sel yang sudah mati.
Dinding selnya mengalami penebalan dari zat kayu dan mengandung lamela-lamela
selulosa sehingga lumen selnya sempit. Serat ini berbentuk poligon, yaitu segi
lima atau segi enam. Noktah-noktahnya sempit yang berbentuk bagai
saluran-saluran sempit miring. Serat-serat sklerenkim pada tumbuh-tumbuhan
terbentuk bersamaan dengan saat-saat terhentinya pertumbuhan organ-organ pada
tumbuhan.
Serat-serat
sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian yang terpisahpisah atau dalam bentuk
lingkaran di dalam korteks dan floem, dalam kelompok-kelompok yang tersebar
dalam xilem dan floem. Pada Gramineae, serat-serat sklerenkim tersusun dalam
suatu sistem berbentuk lingkaran berlekuk-lekuk yang dihubungkan dengan
epidermis. Untuk lebih jelas, perhatikan Gambar. Ada dua macam jenis serat
sklerenkim, yaitu sebagai berikut. (Hidayat, 1995)
1. Serat di Luar Xilem (Ekstraxilari) Serat
ekstraxilari ada yang berlignin dan ada pula yang tidak. Serat ini dapat
digunakan untuk membuat tali, karung goni, dan bahan dasar tekstil untuk
pakaian.
2. Serat Xilem
(Xilari)Jenis serat ini merupakan komponen utama kayu karena dindingnya
mengandung lignin yang menyebabkan dindingnya keras dan kaku.
b)
Sel-Sel Batu (Sklereid)
Sklereid terdapat
pada bagian tumbuhan, antara lain di dalam korteks, floem, buah, dan biji.
Dinding sklereid tersusun atas selulosa yang mengandung zat lignin yang tebal
dan keras. Pada beberapa tumbuhan, kadangkadang ditemukan pula zat suberin dan
kutin. Sel-selnya mempunyai noktah yang sempit dan celahnya bundar, membentuk
saluran yang disebut saluran noktah. Lumen sel sangat sempit karena adanya
penebalan-penebalan dinding sel. Sklereid mungkin bisa dijumpai dalam bentuk
tunggal atau kelompok kecil di antara sel-sel, misalnya butiran seperti pasir
pada daging buah jambu biji atau suatu masa sinambung seperti pada tempurung
kelapa yang keras. Untuk memahami struktur sel-sel batu ini.
b.
Letak jaringan sklerenkim
Jaringan sklerenkim
terdiri atas sel-sel yang bersifat mati dan seluruh bagian dinding selnya
mengalami penebalan. Letaknya adalah di bagian korteks, perisikel, serta di
antara xilem dan floem. Jaringan sklerenkim pada bagian keras biji dan buah
berupa sklereida. Sklereid juga terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel – selnya
membentuk jaringan yang keras, misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji dan
mesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang khas.
Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.(Kurmana, 2008).
Sklerenkim ada dua
jenis, yaitu berbentuk fiber (serat) misalnya rami, dan slereida pada kulit
kacang atau kulit biji. Fungsi jaringan sklerenkim adalah sebagai alat
penyokong dan pelindung.
Serat terdapat di
berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan. Serat paling sering ditemukan diantara
jaringan pembuluh. Menurut tempatnya dalam tubuh, dibedakan menjadi serat xilem
dan ekstra xilem. Serat xilem merupakan bagian jaringan pembuluh dan berkembang
dari prokambium, yakni jaringan yang menghasilkan jaringan pembuluh. Dua macam
serat xilem dibedakan berdasarkan tebal dinding dan noktah adalah serat
libriform dan serat trakeid. serat extra xilem dalam tumbuhan terdapat di luar
xilem, misalnya ditemukan dalam korteks atau dalam floem sebagai bagian dari
floem.
Berdasarkan fungsinya, jaringan dibedakan menjadi:
a. Jaringan pelindung
Jaringan pelindung berfungsi untuk menyelubungi
permukaan tubuh, pada bagian tubuh primer berupa epidermis dan pada bagian yang
telah mengalami pertumbuhan sekunder diganti oleh periderm yang tersusun oleh
sel gabus. Jaringan epidermis terletak paling luar dan disusun oleh sel-sel
hidup dengan dinding sel yang tipis dan terletak menutupi organ tumbuhan.
Selain berfungsi sebagai pelindung jaringan di bawahnya yang lunak,epidermis
juga berfungsi sebagai pencegah kehilangan air, penyimpanan air, penyerap air
dan sebagai kelenjar (Soesilo,1986).
b. Jaringan dasar atau parenkim
Jaringan Parenkim merupakan jaringan terbesar yang
terdapat pada tumbuhan karena mengisi hampir sebagian besar jaringan di tubuh
tumbuhan baik pada akar, batang, daun, biji maupun buah. Jika ditinjau secara
filogenetis, jaringan parenkim dapat dianggap sebagai jaringan-jaringan pada
tumbuhan yang susunannya merupakan pemula. Jadi sesuai dengan pengertian diatas
yaitu jaringan parenkim merupakan jaringan dasar (Sutrian, 1992).
Jaringan parenkim merupakan jaringan yang paling
umum dan belum berdiferensiasi. Kebanyakan karbohidrat non-struktural dan air
disimpan oleh tanaman pada jaringan ini. Jaringan Parenkim biasanya memiliki
dimensi panjang dan lebar yang sama (isodiametrik) dan protoplas aktif
dibungkus oleh dinding sel primer dengan selulose yang tipis. Ruang
interseluler antar sel umum terdapat pada parenkim. Nama lain dari jaringan
parenkim adalah jaringan dasar. Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang,
kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim
bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut klorenkim, yang
mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan
dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim.
Menurut Hidayat (1995), bentuknya parenkim dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut:
1. Parenkim
palisade, merupakan penyusun mesofil daun, kadang-kadang pada biji, dengan
bentuk sel panjang, tegak dan mengandung banyak klorofil.
2. Parenkim bunga karang, penyusun mesofil daun,
bentuk serta susunannya tidak teratur, ruang antar selnya relative besar.
3. Parenkim bintang(aktinenkim), bentuknya seperti
bintang, saling bersambungan di ujungnya sehingga banyak mempunyai ruang antar
sel.
4. Parenkim lipatan, dinding selnya mengadakan
lipatan kea rah dalam serta banyak mengandung kloroplas, penyusun mesofil daun
padi dan daun pinus.
c. Jaringan pengangkut
jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri atas
sel-sel xilem dan floem, yang membentuk berkas pengangkut (berkas vaskuler).
Xilem berperan mengangkut air dan mineral dari dalam tanah ke daun, sedangkan
floem berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian
tumbuhan.
1)
Xilem
Xilem
merupakan jaringan kompleks karena tersusun dari beberapa tipe sel yang
berbeda. Penyusun utamanya adalah trakeid dan trakea sebagai saluran pengangkut
air dengan penebalan dinding sel yang cukup tebal sekaligus berfungsi sebagai
penyokong. Xilem juga tersusun atas serabut, sklerenkim, serta sel-sel parenkim
yang hidup dan berperan dalam berbagai kegiatan metabolisme sel. Xilem disebut
juga sebagai pembuluh kayu yang membentuk kayu pada batang.
Trakeid
dan trakea merupakan dua kelompok sel yang membangun pembuluh xilem. Kedua tipe
sel berbentuk bulat panjang, berdinding sekunder dari lignin dan tidak
mengandung kloroplas sehingga berupa sel mati. Perbedaan pokok antara keduanya,
adalah pada trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-lubang), hanya ada celah
(noktah), berupa plasmodesmata yang menghubungkan satu sel dengan sel lainnya.
Sedangkan
pada trakea terdapat perforasi pada bagian ujung-ujung selnya. Transpor air dan mineral pada trakea
berlangsung melalui perforasi ini, sedangkan pada trakeid berlangsung lewat
noktah (celah) antar sel selnya. Sel-sel pembentuk trakea tersusun sedemikian
rupa sehingga merupakan deretan sel memanjang (ujung bertemu ujung) membentuk
pipa panjang (kapiler). Bentuk penebalan pada dinding trakea dapat berupa
cincin spiral, atau jala.
2)
Floem
Pada
prinsipnya, floem merupakan jaringan parenkim.Tersusun atas beberapa tipe sel
yang berbeda, yaitu buluh tapis, sel pengiring, parenkim, serabut, dan
sklerenkim. Floem juga dikenal sebagai pembuluh tapis, yang membentuk kulit
kayu pada batang. Unsur penyusun pembuluh floem terdiri atas dua bentuk, yaitu:
sel tapis (sieve plate) berupa sel tunggal dan bentuknya memanjang dan buluh
tapis (sieve tubes) yang serupa pipa. Dengan bentuk seperti ini pembuluh tapis
dapat menyalurkan gula, asam amino serta hasil fotosintesis lainnya dari daun
ke seluruh bagian tumbuhan.
d.
Jaringan
penguat
Sistem jaringan penguat terdiri dari dua jaringan
sederhana yaitu kolenkim dan sklerenkim. Kedua bentuk jaringan ini dapat berada
tersebar di antara jaringan dasar, tetapi dapat pula mengelompok membentuk
jaringan yang terpisah (Soesilo dkk. 1986 ).
e.
Jaringan
kolenkim
Kolenkim terdiri dari sel – sel yang serupa dengan
parenkim tapi dengan penebalan pada dinding sel primer disudut sudut sel tidak
menyeluruh. Umumnya terletak pada bagian peripheral batang dan beberapa bagian
daun. Dinding sel yang plastis dan fleksibel pada kolenkim member dukungan yang
cukup untuk sel – sel tetangganya. Karena kolenkim jarang menghasilkan dinding
sel sekunder, jaringan ini tampak sebagai sel – sel dengan penebalan dinding
sel yang ekstensif. Hubungan erat antara jaringan kolenkim dan parenkim tampak
pada batang dimana kedua jaringan ini terletak bersebelahan.
f. Jaringan Sklerenkim
Jaringan Sklerenkim adalah jaringan pendukung /
penguat pada tanaman. Penebalan lignin terletak pada dinding sel primer dan
sekunder dan dinding menjadi sangat tebal. Hanya ada sedikit ruang untuk
protoplas yang nantinya hilang jika sel dewasa (gambar jaringan sklerenkim).
Sel – sel yang terdiri dari jaringan sklerenkim mungkin terbagi menjadi 2 tipe:
serat (fibre) atau sklereid yang keras . Serat atau fibre biasanya memanjang
dengan dinding berujung meruncing pada penampang membujur (longitudinal
section; L.S.), sedangkan sklereid atau sel batu pada batok kelapa adalah
contoh yang baik dari bagian tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan
sklereid. Sklereid terdapat pada organ tanaman yang biasanya keras baik buah
dan biji.
g. Jaringan gabus
Jaringan gabus tersusun dari sel-sel memipih yang
mati tanpa ruang antar sel. Sel-sel tersebut dibatasi oleh lamela bahan
berlemak, disebut suberin. Jaringan ini dihasilkan oleh cambium gabus atau
felogen.yang pada batang kebanyakan tumbuhan, muncul dalam sel-sel korteks
terluar, dan pada akar umumnya dibentuk dalam perisikel. Semua jaringan, dari
kambium pembuluh keluar, membentuk pegagan sumbu.
h. Jaringan sekretori
Tumbuhan mengeluarkan senyawa-senyawa dalam tubuhnya
melalui jaringan sektori yang terbagi atas jaringan rekresi, ekskresi dan
sekresi berdasarkan pada seberapa jauh senyawa yang dihasilkan jaringan itu
telah memasuki proses metabolisme. Jaringan rekresi yang mpentinga adalah
hidatoda yang merupakan struktur tempat mengeluarkan air. Letaknya diujung
trakeid, dapat berupa bangunan sederhana atau berupa jaringan kompleks.
Jaringan sekresi dapat berupa rambut kelenjar atau kelenjar. Senyawa yang
dihasilkan bermacam senyawa organik.
Jaringan sekresi terdapat dalam berbagai bagian idioblas, sampai
jaringan komplesks. Jaringan sekresi berbeda-beda ada yang berbuku-buku ada
yang tidak.
Jaringan-jaringan tersebut diatas bersama jaringan
yang lain membentuk bermacam-macam organ, diantaranya organ vegetatif. Organ
tersebut terdiri dari daun, batang dan akar. Berikut penjelasan masing-masing
organ vegetatif tersebut: (Hidayat,
1995).
1.
Akar
Akar merupakan organ tumbuhan yang penting karena
berperan sebagai alat pencengkeram pada tanah atau penguat dan sebagai alat
penyerap air. Akar memiliki bagian pelindung berupa tudung akar yang tidak
dimiliki oleh organ lain. Berdasarkan asal terbentuknya, akar dapat dibedakan
atas akar primer dan akar adventitif. Akar primer terbentuk dari bagian ujung
embrio dan dari perisikel, sedangkan akar adventitif berkembang dari akar yang
telah dewasa selain dari perisikel atau keluar dari organ lain seperti dari
daun dan batang.
2.
Batang
Batang merupakan salah satu organ vegetatif pada
tumbuhan. Pada tumbuhan dikotil, berkas pembuluh tersusun dalam suatu lingkaran
sehingga korteks terdapat di bagian luar lingkaran dan empulur di bagian dalam
lingkaran. Pada tumbuhan dikotil ini, xilem tersusun di bagian dalam lingkaran.
Di antara floem dan xilem terdapat kambium yang menyebabkan pertumbuhan
sekunder pada tumbuhan dikotil. Kambium merupakan jaringan meristem lateral
yang berfungsi dalam pertumbuhan sekunder.
3.
Daun
Daun merupakan tempat berlangsungnya proses
fotosintesis. Pada daun, terdapat struktur morfologi yang berbeda pada setiap
jenis tumbuhan berbeda-beda. Oleh karena itu, struktur morfologi daun dapat
digunakan untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tumbuhan. Struktur daun dapat
dilihat dari: bentuk tulang daun, bangun daun atau bentuk helaian daun, tepi
daun, bentuk ujung daun, bentuk pangkal daun, dan permukaan. Daun tidak hanya
digunakan sebagai tempat fotosintesis, tetapi daun juga berfungsi untuk
transpirasi (penguapan air) dan respirasi (pernapasan).
BAB III
METODOLOGI
PRAKTIKUM
3.1.
Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari
jum’at, tanggal 13 Oktober 2017 pukul
14:40-16:20 WIB.Bertempat di laboratorium Terpadu Universitas PGRI Palembang.
3.2.
Alat dan Bahan
3.2.1.
Alat
a. Mikroskop
b. Deck glass
c. Objek glass
3.2.2.
Bahan
a. Preparat awetan kembang sepatu ( Hibiscus rosa sinensis)
b. Preparat awetan daun jagung (Zea mays)
c. Preparat awetan
darah ( Eritrosit )
d. Preparat awetan usus 12 jari (Duodenum)
e. Preparat awetan kerongkongan
(Esofagus)
3.2.3.
Cara Kerja
a.
Ambil lapiasan Preparat Awetan
yang di gunakan
b.
Kemudian amati
di mikroskop dengan tekan kecil kemudian
dengan
tekan
besar
c.
Gambar dan beri keterangan
4.2 Pembahasan
Sel darah merah
(eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak mempunyai inti. Ukuran
diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak. Banyaknya
kira–kira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan, karena
didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan
bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen.
Fungsi sel darah
merah adalah mengikat oksigen dari paru–paru untuk diedarkan ke seluruh
jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk
dikeluarkan melalui paru–paru. Pengikatan oksigen dan karbon dioksida ini
dikerjakan oleh hemoglobin yang telah bersenyawa dengan oksigen yang disebut
oksihemoglobin (Hb + oksigen 4 Hb-oksigen) jadi oksigen diangkut dari seluruh
tubuh sebagai oksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan akan
dilepaskan: Hb-oksigen Hb + oksigen, dan seterusnya. Hb tadi akan bersenyawa
dengan karbon dioksida dan disebut karbon dioksida hemoglobin (Hb + karbon
dioksida Hb-karbon dioksida) yang mana karbon dioksida tersebut akan dikeluarkan
di paru-paru.
Sel darah merah
(eritrosit) diproduksi di dalam sumsum tulang merah, limpa dan hati. Proses
pembentukannya dalam sumsum tulang melalui beberapa tahap. Mula-mula besar dan
berisi nukleus dan tidak berisi hemoglobin kemudian dimuati hemoglobin dan
akhirnya kehilangan nukleusnya dan siap diedarkan dalam sirkulasi darah yang
kemudian akan beredar di dalam tubuh selama kebih kurang 114 – 115 hari,
setelah itu akan mati. Hemoglobin yang keluar dari eritrosit yang mati akan
terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang mengandung Fe yang berguna untuk
membuat eritrosit baru dan hemoglobin yaitu suatu zat yang terdapat didalam
eritrisit yang berguna untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida.
Struktur dan Fungsi
Kerongkongan (Esofagus) Manusia - Setelah makanan kita kunyah dalam mulut,
makanan akan masuk menuju kerongkongan. Sebelum ke kerongkongan, pada pangkal
tenggorokan (laring) terdapat bagian yang memiliki katup dinamakan epiglotis.
Epiglotis berfungsi mengatur masuknya makanan dan udara ke dalam tubuh. Saat
kita menelan makanan, laring bergerak ke atas sehingga tertutup oleh epiglotis
dan tidak ada makanan yang masuk ke dalam batang tenggorokan (trakea). Namun,
terkadang partikel kecil makanan atau air dapat masuk ke dalam laring atau trakea.
Akibatnya, secara otomatis kita akan mengalami batuk atau tersedak.
Kerongkongan merupakan organ yang berperan sebagai tempat jalannya makanan
menuju lambung. Panjangnya sekitar 25 cm dan berbentuk tabung dengan diameter 2
cm. Dinding kerongkongan tersusun atas epitelium berlapis pipih.
Selain itu, pada
kerongkongan terdapat pula beberapa otot, yakni otot melingkar dan otot
longitudinal. Apabila otot tersebut berkontraksi, kerongkongan akan bergerak.
Gerakan demikian disebut gerak peris taltik. Gerak peristaltik pada
kerongkongan ialah gerakan mendorong dan meremas-remas makanan menuju lambung.
Gerakan ini terdiri atas fase kontraksi dan relaksasi.
Anatomi daun dapat
dibagi menjadi 3 bagian : Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada
epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu
besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis
terdapatstoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran
gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan. Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan
dari jaringan batang, terdapat di dalam tulang daun dan urat-urat daun. Parenkim
daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan spons
(jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar
sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang,
sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih
aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan
bunga karang.
Zea mays merupakan
tumbuhan monokotil, maka struktur anatomi batangnya memiliki struktur batang
monokotil. Pada preparat batang Zea mays terdapat
epidermis yang letaknya ada pada lapisan terluar pada sel batang jagung, selain
itu pada preparat Zea mays terdapat berkas pengangkut yang terletak pada
lapisan tengah-tengah dari preparat Zea
mays, selanjutnya ialah pada preparat tersebut juga terdapat korteks.
Epidermis pada batang monokotil terdiri dari selapis sel, fungsi epidermis pada
batang monokotil ialah untuk melindugi jaringan-jarigan yang ada didalam,
selain itu fungsi epidermis ialah untuk menjaga agar tumbuhan tersebut tidak
kehilangan air. Korteks batang Zea mays
berukuran cukup luas, bagian dalam korteks utamanya terdiri dari parenkim dan
beberapa lapis terdiri dari sklerenkim (tepat di bawah epidermis). Sklerenkim
juga terdapat pada sekeliling berkas pengangkut. Sel sklerenkim memiliki fungsi
untuk mendukung batang dan melindungi berkas pengangkut. Sel sklerenkim
memiliki ukuran yang kecil, dan memiliki dinding sel yang kuat dan tebal.
Dinding sel dipenuhi dengan lignin, maka dari itu dinding sel memiliki sifat
kaku.
fungsi usus 12 jari
1. Membantu pencernaan makanan
Makanan yang masuk
ke dalam perut akan di olah di usus 12 jari. Dalam pengolahan ini di maksudkan
agar makanan bisa lebih lebih lembut dan halus. Kemudian di ambil sari patinya.
Sedangkan bagian sisanya akan di lanjut kan sampai usus besar. Jika sudah tidak
ada yang bisa di serap, akan di keluarkan pada anus dalam bentuk tinja.
2. Membantu penyerapan makanan
Makanan yang masuk
ke dalam usus 12 jari bukan hanya di cerna saja. Namun juga di serap nutrisi
dan gizi yang ada di dalamnya. Misalnya dalam telur terdapat asam amino yang
merupakan bagian dari protein. Zat ini bisa bermanfaat untuk tubuh. Salah satunya
adalah membantu mengganti sel yang rusak. Ada lagi nasi, sayuran, buah, dan
lain sebagainya. Itulah mengapa, pencernaan di usus 12 jari merupakan
pencernaan yang penting dan harus di lakukan. Sebab makana bukan hanya di cerna,
tapi juga di serap gizinya.
3. Menghasilkan enzim yang berguna dalam
proses penyerapan
Sudah di jelaskan
bahwa makanan yang masuk ke dalam usus 12 jari menjadi basa. Sebab ph atau
derajat keasaaman pada bagian ini adalah 9. Mengapa? Hal ini berkaitan dengan
proses pengolahan makanan. Dalam usus 12 jari terdapat beberapa enzim
pencernaan yang hanya mampu untuk mengolah pada lingkungan basa. Misalnya
adalah enzim enterokinase, enzim maltase, enzim lactase, enzim sukrase, enzim
peptidase, enzim lipase usus, enzim erepsin atau dipeptidase, enzim disakrase
dan enzim nuklease. Semuanya hanya bisa bekerja baik dalam kondisi basa. (baca
: fungsi enzim lipase)
4. Saluran ke usus halus
Usus 12 jari
merupakan saluran langsung dari lambung. Jadi makanan yang masuk dalam lambung
terjadi pengolahan dengan derajat keasaman rendah. Hal ini berkaitan dengan
kinerja enzim yang ada di lambung hanya bisa bekerja dalam lingkungan asam.
Kemudian makanan akan masuk ke usus 12 jari setelah lolos dari sfinter.
Kemudian setelah selesai pemrosesan dan pencernaan pada sistem ekskresi,
makanan akan masuk ke saluran usus halus.
5. Terdapat mukosa otot
Pada bagian usus 12
jari ini terdapat lapisan lapisan tipis. Hal ini di gunakan usus untuk
membentuk mukosa otot. Keberadaannya membantu dalam pengolahan makanan agar
hasilnya lebih baik dan lebih bisa di cerna lebih lanjut.
6. Memiliki lendir yang bekerja spesifik
Makana yang masuk
dalam usus 12 jari tidak akan mudah di cerna. Namun usus 12 jari ini memiliki
lendir yang di hasilkan oleh kelenjar Brunner. Lendir ini membantu dalam
pengolahan dan pelancaran makanan. Keberadaan lendir ini menjadikan makanan
yang di olah semakin baik dan gizinya juga keluar.
7. Membantu penyerapan protein
Dalam usus 12 jari
terdapat lipatan lipatan yang di namakan dengan jonjot jonjot usus. Di setiap
jonjot tersebut terdapat sel kripta lieberkuhn. Dari sel tersebut mampu
menghasilkan enzim enterokinase. Keberadaan enzim enterokinase mampu membantu
mengaktivkan keberadaan enzim yang membantu dalam penyerapan protein. Enzim
tersebut adalah tripsin. Tugasnya adalah mengubah protein menjadi asam amino.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adpun kesimpulan
yaitu Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paru–paru untuk
diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan
tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru. fungsi usus 12 jari Membantu
pencernaan makanan. Membantu penyerapan makanan, Menghasilkan enzim yang berguna dalam proses
penyerapan, Saluran ke usus halus, Terdapat mukosa otot. Memiliki lendir yang
bekerja spesifik, Membantu penyerapan protein Zea mays merupakan tumbuhan monokotil, maka struktur anatomi
batangnya memiliki struktur batang monokotil. Pada preparat batang Zea mays terdapat epidermis yang
letaknya ada pada lapisan terluar pada sel batang jagung. Struktur dan Fungsi
Kerongkongan (Esofagus) Manusia - Setelah makanan kita kunyah dalam mulut,
makanan akan masuk menuju kerongkongan. Sebelum ke kerongkongan, pada pangkal
tenggorokan (laring) terdapat bagian yang memiliki katup dinamakan epiglotis.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat di samapaiakan yaitu agar
setiap mahsiswa yang leakukan praktikum dapat medapat kan hasil pratikum dengan
baik sebaiknya lakukan pencobaan dengan prosedur yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat,
Estiti. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji.
Bandung: ITB
Mulyani,
Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan.
Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta
Santoso,
Woelaningsih dkk. 1987. Anatomi Tumbuhan.
Jakarta: penerbit karnunika Jakarta Universitas Terbuka.
Tri Wahyu Agustina.
2010. Materi Pokok Ajar Anatomi Tumbuhan.
Bandung: Pendidikan Biologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar