Jumat, 05 April 2019

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM JARINGAN


LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM
JARINGAN



Disusun Oleh :
Nama : Syahirul Alim
Nim     : 2017411019.P
Dosen  : Yunita Panca Putri, S.Si., M.Si






PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2017


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama. Jaringan pada tumbuhan dan hewan berbeda. Sekumpulan jaringan akan membentuk organ. Cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan adalah histologi. Sedangkan cabang  ilmu biologi yang mempelajari jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan pada tubuh tumbuhan  dikelompokkan berdasarkan tempatnya dalam tumbuhan, tipe sel, fungsi, asal-usul, dan tahap perkembangannya.
Berdasarkan jumlah tipe sel penyusunnya, jaringan dibedakan menjadi jaringan sederhana dan jaringan rumit. Jaringan sederhana bersifat homogeni, hanya terdiri atas satu tipe sel sedangkan jaringan rumit bersifat heterogen, terdiri atas dua atau lebih sel. Parenkim, kolenkim,sklerenkim adalah jaringan sederhana, sedangkan xilem, floem,dan epidermis adalah jaringan rumit. Di tahun 1875, Sachs membagi jaringan dalam tiga system berdasarkan kesinambungan topografi yakni sistem dermal, sistem jaringan pembuluh, dan sistem jaringan dasar. Sistem dermal meliputi epidermis, yakni pelindung primer (pertama) bagi bagian luar tubuh, dan periderm, yang menggantikan epidermis pada tumbuhan yang mengalami pertumbuhan sekunder.. sistem jaringan pembuluh terdiri dari xilem yakni yang mengangkut air dan garam dalam tanah, dan floem yang mengangkut hasil fotosintesis.
Sistem jaringan dasar mencakup jaringan yang membentuk dasar bagiani tumbuhan, namun sekaligus juga dapat menunjukkan spesialisasi. Jaringan dasar utama adalah parenkim dengan semua ragamnya, kolenkim, yakni jaringan yang berdinding tebal dan sel tetap hidup, sklerenkim yakni jaringan berdinding tebal dan sering kali berkayu sehingga keras dengan sel yang biasanya mati
Dalam tubuh tumbuhan, jaringan tersebar dalam pola khas bagi kelompok tumbuhan yang bersangkutan. Pada dasarnya ada kemiripan dalam pola penyebaran jaringan pada tumbuhan dikotil sebab jaringan pembuluh tertanam dalam jaringan dasar dan sistem dermal merupakan penutup di sebelah luar. Pada tumbuhan dikotil, misalnya jaringan pembuluh batang membentuk silinder berongga. Rongga tersebut terisi jaringan dasar (empulur) dan ada pula yang berada diantara silinder pembuluh dan system dermal (korteks). Pada daun, jaringan pembuluh membentuk system yang beranastomosis dalam jaringan dasar yang terdiferensiasi sebagai mesofil pada akar dapat ditentukan silinder jaringan pembuluh yang seringkali tidak mengelilingi empulur  (korteks).

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum jaringan ini yaitu untum mengetahui jenis jenis jaringan dan lemak dari jaringan  serta mengathui bentuk anatomi dari jaringan .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaringan Kolenkim
Kolenkim seperti halnya sklerenkim, merupakan jaringan mekanik yang bertugas menyokong tumbuhan.Bagian tumbuhan yang tumbuh dengan lambat mengalami pertumbuhan sedikit saja sehingga dukungan oleh turgor dalam sel parenkim sudah cukup. Namun kebanyakan batang tumbuh dengan cepat dan bagian yang tumbuh itu sering menjadi panjang dan ramping. Struktur seperti itu membutuhkan jaringan penyokong yang berfungsi di saat organ yang bersangkutan tumbuh dan harus disusun oleh sel yang juga dapat memanjangkan dirinya sendiri.Persyaratan itu dipenuhi oleh kolenkim (Hidayat, 1995).
 Kolenkim terbentuk oleh sejumlah sel memanjang yang menyerupai sel prokambium dan berkembang dalam stadium awal promeristem.Sel kolenkim adalah sel hidup, bentuknya sedikit memanjang, dan pada umumnya memiliki dinding yang tak teratur penebalannya.Berbeda dengan sel sklerenkim yang memiliki dinding sekunder, sel kolenkim hanya memiliki dinding primer, lunak, lentur tak berlignin. Sebaliknya, dinding sekunder pada sklerenkim, bersama dengan dinding primernya, dapat berlignin (mengandung zat kayu) dan karenanya menjadi keras dan kaku.
Sel kolenkim tetap memiliki protoplas aktif yang mampu melenyapkan penebalan dinding bila sel dirangsang untuk membelah seperti pada waktu sel tersebut membentuk cambium gabus atau menanggapi luka.Dinding sel sklerenkim lebih bertahan dan tak dapat segera dilenyapkan, meskipun protoplasnya masih ada.Kebanyakan sel sklerenkim kehilangan protoplasnya setelah dewasa.
Sebagaimana diutarakan di atas, kolenkim bertugas sebagai jaringan penyokong pada bagian tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan pada tumbuhan basah, bahkan terdapat pada organ yang telah dewasa.Kolenkim bersifat plastis dan dapat merenggang secara permanen bersama dengan pertumbuhan organ tempatnya berada.
Kolenkim, seperti parenkim, dapat mengandung kloroplas dan dapat pula berisi tannin.Dinding sel kolenkim dapat berlignin atau menjadi lebih tebal seperti pada sklerenkim.Namun, karena kolenkim terdiri dari sel hidup maka dinding sel kolenkim dapat menjadi tipis lagi dan sel bersifat meristematik.
Kolenkim merupakan jaringan penyokong pada tumbuhan. Secara ontogeni, perkembangan kolenkim mirip prokambium dan tampak pada tahap yang sangat awal dari diferensiasi meristem atau dari sel isodiametris meristem dasar.Kolenkim terdiri atas sel hidup yang berbentuk agak memanjang dan biasanya berdinding tebal.Kolenkim berfungsi sebagai jaringan penyokong pada organ muda yang sedang tumbuh, pada tumbuhan herbal (herbaceus), dan bahkan pada organ dewasa.Kolenkim bersifat plastis sehingga dapat meregang secara irreversibel dengan adanya pertumbuhan organ.Kolenkim dewasa kurang plastis, lebih kuat, tetapi lebih mudah rusak daripada kolenkim muda. (Hidayat, 1995)
Ada hubungan fisiologi dan morfologi antara kolenkim dan parenkim.Pada tempat kedua jaringan tersebut berdampingan terdapat bentuk peralihan atara tipe kolenkim dan parenkim.Kolenkim seperti halnya parenkim dapat berisi kloroplas.Kolenkim  yang mirip dengan parenkim berisi banyak kloroplas, sedangkan kolenkim khusus yang terdiri atas sel yang sempit memanjang, hanya sedikit atau tidak mengandung kloroplas sama sekali. Sel kolenkim dapat juga berisi tanin.(Hidayat, 1995).
 Pada irisan melintang kolenkim segar, dinding selnya tampak seperti nakre. Dinding kolenkim tumbuhan yang terkena angin lebih tebal.Dinding sel terdiri atas selulosa, sejumlah besar pektin, dan hemiselulosa, tetapi tidak mengandung lignin.Senyawa pektinnya bersifat hidrofil sehingga dinding kolenkim banyak mengandung air.Dinding kolenkim yang menebal sekunder dapat menjadi tipis dan kemudian selnya menjadi meristematis lagi dan mulai membelah.Hal ini terdapat pada jaringan kolenkim yang membentuk felogen.Noktah primer sering kali terdapat dalam dinding kolenkim (Mulyani, 2006).
Kolenkim terdapat di dalam batang, daun, bunga, buah, dan akar.Kolenkim berkembang terutama jika mendapat sinar.Kolenkim tidak terdapat dalam batang dan daun Monokotil yang sklerenkimnya berkembang pada umur awal. Kolenkim biasanya dibentuk tepat di bawah epidermis, tetapi dalam hal khusus terdapat satu atau dua lapisan parenkim diantara  epidermis dan kolenkim. Apabila kolenkim tepat berada di bawah epidermis, seringkali dinding epidermis menebal dengan cara yang sama dengan dinding sel kolenkim.Pada batang, kolenkim terdapat sebagai suatu silinder atau berbentuk pita memanjang (membujur).Pada daun, kolenkim terdapat pada satu atau kedua sisi tulang daun, dan sepanjang tepi daun.(Mulyani,2006).
Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam.Ada yang berbentuk prisma pendek, mirip sel parenkim, atau panjang seperti serabut dengan ujung meruncing.Sel kolenkim yan terpanjang dijumpai di daerah pusat untaian kolenkim, dan yang terpendek di daerah tepi.Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut, untaian kolenkim dibentuk oleh serangkaian sel yang membelah memanjang mulai dari pusat untaian; setelah pembelahan, sel terus memanjang sehingga sel pusat menjadi yang terpanjang karena yang pertama kali dibentuk dan meningkat sampai panjang maksimum.Selama perkembangan untaian kolenkim ini juga terjadi pembelahan mendatar (horisontal) (Mulyani,2006)

2.2 Ciri-ciri Jaringan Kolenkim
Kolenkim dewasa adalah suatu jaringan lentur yang kuat, terdiri atas sel panjang yang tumpang tindih (panjangnya dapat mencapai 2 mm) dengan dinding tebal yang tidak berlignin.Kekuatan meregang sel kolenkim sebanding dengan serabut.Pada bagian tumbuhan yang tua, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah menjadi sklerenkim dengan pembentukan dinding sekunder yang berlignin.Terpusatnya lignin terjadi terutama pada lapisan dinding terluar.Biasanya disimpulkan bahwa kolenkim adalah jaringan penunjang yang muda. Apabila kolenkim terdapat pada organ yang berkanjang (persisten) untuk periode yang lama, kolenkim akan mengalami sklerifikasi (Mulyani,2006).
Pada bagian tumbuhan yang kuat, kolenkim menjadi keras atau dapat berubah menjadi sklerenkim dengan pembentukan dinding sekunder yang berlignin. Pada tumbuhan dikotil misalnya, tangkai dan batang Medicago sativa, Eryngium maritimun, Viscum album dan Salvia officinalis kolenkim berubah menjadi sklrenkim (Mulyani, 2006)

2.3 Letak Jaringan Kolenkim
Kolenkim dapat ditemukan pada batang, daun, serta pada bagian bunga dan buah.Pada akar, kolenkim bisa dibentuk, terutama bila akar didedahkan kepada cahaya.Di banyak monokotil tak ditemukan kolenkim jika sklerenkim dibentuk sejak tanaman muda.Biasanya kolenkim terdapat langsung di bawah epidermis.Pada batang, kolenkim bisa membentuk silinder penuh atau tersusun menjadi berkas yang memanjang sejajar sumbu batang.Pada daun, kolenkim terdapat di kedua sisi tulang daun utama atau pada satu sisi saja, serta terdapat pula sepanjang tepi daun. (Hidayat, 1995).
Struktur dan Susunan Jaringan Kolenkim dan Macam-macamnya  Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam.Sel dapat berupa prisma pendek atau bisa pula panjang seperti serat dengan ujung meruncing, namun antara kedua bentuk tersebut terdapat bentuk peralihan (Mulyani, 2006).
Dinding sel kolenkim terdiri atas lapisan yang berselang seling, kaya akan selulosa dengan sedikit pektin. Air dalam seluruh dinding sel kurang lebih 67%. Roelofsen (1959) menyatakan bahwa di dalam Petasites, dinding sel kolenkim berisi 45% pektin, 35% hemiselulosa, dan 20% selulosa. Dinding sel kolenkim Petasites ini terdiri atas 7-20 lamela yang bergantian/berseling antara lamela yang mengandung banyak seluosa dan lamela yang mengandung sedikit selulosa.Semakin mendekati lumen sel, selulosanya semakin banyak.
Menurut tipe penebalan dindingnya, kolenkim dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai berikut: (Hidayat, 1995).
a)    Kolenkim sudut (angular kolenkim)
Penebalan dinding sel kolenkim ini  terjadi pada sudut-sudut sel. Pada penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada tempat bertemunya tiga sel atau lebih, seperti yang terdapat pada tangkai Rumex, Vitis, Begonia, Coleus, Cucurbita, Morus, Beta, dan pada batang Solanum tuberosum dan Atropa belladonna.
b)   Kolenkim lamela (lamelar kolenkim) atau kolenkim papan
 Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding tangensial sel. Kolenkim lamela terdapat pada korteks batang Sumbucus nigra, Rhamnus, dan tangkai Cochlearia armoracia
c)    Kolenkim lakuna (lacunar kolenkim)
Penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada dinding-dinding yang berbatasan dengan ruang antarsel. Kolenkim lakuna terdapat pada tangkai beberapa spesies Compositae, misalnya Salvia, Malva, Athaea,  dan Asclepias dan pada batang Ambrosia
d)   Kolenkim cincin
Istilah kolenkim cincin diberikan oleh Duchaigne (1995,) untuk tipe kolenkim yang lumen selnya pada penampang melintang tampak melingkar. Muller (1890), menyebutnya knorpel-collenchyma. Pengamatan terhadap kolenkim cincin dewasa tampak adanya penebalan dinding sel secara terus menerus sehingga lumen sel akan kehilangan bentuk sudutnya.
 Dinding sel kolenkim merupakan contoh dinding primer yang amat menebal, sebab penebalan terjadi pada saat sel masih tumbuh membesar.Dinding sel meluas dan sekaligus menebal pula.Dinding kolenkim terdiri dari lapisan yang kaya selulosa dan miskin pektin, bergantian dengan lapisan yang miskin selulosa dan kaya pektin. Dalam bahan segar, kandungan air dari seluruh dinding sekitar 67%. Hal itu disebabkan karena pektin yang bersifat hidrofil. Pada preparat yang dibuat dari sayatan segar dan dilihat dalam air, kandungan air menyebabkan dinding membengkak sehingga tampak amat jelas, berkilauan seperti dinding sebelah dalam cangkang kerang (nacre).Dinding sel kolenkim terdiri atas lapisan yang berselang-seling kaya selulosa dengan sedikit pektin, dan lapisan lain dengan sedikit selulosa dan kaya pektin. Pada bahan segar, ai dalam seluruh dinding sel lebih kurang 67% (Mulyani, 2006).
Menurut Czaja (1961), lamela melintang pada penebalan dinding kolenkim pada banyak kebanyakan tumbuhan dapat dideteksi dengan alat mikroskop cahaya terpolarisasi. Chafe (1970) ,telah mengamati bahwa orientasi mikroserabut selulosa dalam lamela yang berurutan bergantian melintang dan membujur. Selama perkembangan penebalan dinding, terjadi penambahan lapisan mikroserabut mengelilingi seluruh sel sehingga memperluas keliling sel.
Pada sebagian besar tumbuhan Dikotil, misalnya tangkai dan batang Medicago sativa, Eryngium maritimum, Viscum album, dan Salvia officinalis, kolenkim berubah menjadi sklerenkim. Menurut Duchaigne (1955), sklerefikasi ini terjadi melalui pembentukan lamela secara sentripetal dan sentrifugal. Selama pertumbuhan lamela, dibentuk lapisan yang kaya selulosa, yang kemudian banyak mengandung lignin.Lamela yang mengandung lignin tampak dengan arah sentrifugal mengelilingi lapisan pertama.Sebagai hasil perkembangan sentrifugal, lamela berlignin yang mengandung senyawa pektoselulosa pada dinding kolenkim tidak tampak.Sering kali sebagian senyawa ada yang masih tertinggal setelah dinding mengalami sklerifikasi.Lamela tambahan berkembang ke arah sentripetal dan lumen sedikit demi sedikit mengecil.
Struktur Sehubungan dengan Fungsi Kolenkim tampaknya beradaptasi, terutama untuk menyokong batang serta daun yang sedang tumbuh.Dinding sel menebal amat dini ketika pucuk berkembang, namun penebalan itu bersifat plastis dan mampu meluas.Sebab itu, penebalannya tidak menghalangi pemanjangan batang atau daun.Pada perkembangan selanjutnya, kolenkim dapat tetap bertahan sebagai jaringan penyokong (terjadi pada banyak macam daun dan pada batang beberapa tumbuhan basah) jika bagian organ tempat kolenkim berada tidak membentuk sklerenkim. Dalam bagian tanaman yang sedang berkembang dan terdedah kepada tekanan mekanik (angin, pemberian bobot yang digantungkan pada ranting), maka penebalan dinding terjadi lebih awal serta dinding terjadi lebih awal serta dinding menjadi lebih tebal dibandingkan dengan bagian tanaman yang tidak terpengaruh tekanan seperti itu. (Hidayat, 1995).
Kolenkim dewasa merupakan jaringan yang kuat dan lentur, terdiri dari sel panjang yang saling timpa (dapat mencapai panjang sampai 2 mm) dengan dinding tebal tidak berlignin.Pada tanaman tua, dinding sel kolenkim mengeras atau berlignin serta berubah menjadi sel sklerenkim. hdyt
 
2.4 jaringan sklerenkim
Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel-sel mati yang seluruh bagian  dindingnya mengalami penebalan sehingga kuat, sel-selnya lebih kaku daripada sel kolenkim, sel sklerenkim tidak dapat  memanjang.  Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penguat dengan dinding sekunder yang tebal. Umumnya, jaringan sklerenkim terdiri atas zat lignin dan tidak mengandung protoplas. Sel-sel sklerenkim hanya dijumpai pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Jaringan sklerenkim terdiri atas serat-serat sklerenkim (fiber) dan sel-sel batu (sklereid) (Hidayat.1995).
a)    Serat-serat sklerenkim
Serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian atau dalam bentuk lingkaran. Di dalam berkas pengangkut, serat-serat sklerenkim biasanya merupakan suatu seludang yang berhubungan dengan berkas pengangkut atau dalam kelompok yang tersebar di dalam xilem dan floem. Serat-serat sklerenkim mempunyai ukuran antara 2 mm–25 cm. Beberapa spesies tumbuhan mempunyai serat-serat sklerenkim yang bernilai ekonomis tinggi, misalnya serat manila yang digunakan sebagai bahan dasar tali.
b)    Sel-sel batu          
Sel-sel batu terdapat dalam semua bagian tumbuhan, terutama di dalam kulit kayu, pembuluh tapis, dalam buah atau dalam biji. Pada tempurung kelapa (Cocos nucifera) hampir seluruhnya terdiri atas sel-sel batu. Sel-sel batu pada buah dapat memberikan ciri khas, misalnya tekstur berpasir pada kulit buah dan daging buah pir (Pyres communis) atau butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji (Psidium guajava).
a.      Ciri-ciri jaringan sklerenkim
Ciri-ciri dari jaringan sklerenkim, yaitu :
Selnya mati,  Dindingnya berlignin (zat kayu) dan mengandung selulosa dinding sel. Sehingga sel-selnya menjadi kuat dan keras. Penebalan lignin terletak pada dinding sel primer dan sekunder dan dinding menjadi sangat tebal.    Umumnya terdapat pada batang dan tulang daun.  Jaringan sklerenkim tersusun dari sel-sel dengan dinding yang keras.    Hanya ada sedikit ruang untuk protoplas yang nantinya hilang jika sel dewasa. Sel-sel yang terdiri dari jaringan sklerenkim mungkin terbagi menjadi 2 tipe : serat (fibre) atau sklereid. Serat atau fibre biasanya memanjang dengan dinding berujung meruncing pada penampang membujur (longitudinal section; L.S.).  Sedangkan sklereid atau sel batu. Batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid.  Terdapat pada bagian keras buah dan biji. Bagian bergerigi pada buah pir disebabkan oleh sel-sel batu (stone cell, sklereid).
Struktur dan Fungsi jaringan sklerenkim. Jaringan sklerenkim merupakan jaringan mekanik yang hanya terdapat pada organ tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan atau organ tumbuhan yang telah tetap. Sklerenkim berfungsi untuk menghadapi segala tekanan sehingga dapat melindungi jaringan-jaringan yang lebih lemah, melindungi tubuh tumbuhan dari kerusakan mekanik, melindungi tumbuhan dari serangan hewan, dan sebagai alat penyokong dan pelindung tumbuhan. Sklerenkim tidak mengandung protoplas, sehingga sel-selnya telah mati. Dinding selnya tebal karena berlangsung penebalan sekunder sebelumnya yang terdiri atas zat lignin. Jaringan sklerenkim dibedakan menjadi dua, yaitu :

a)    Serat-Serat Sklerenkim (Fibers)
Serat-serat sklerenkim terdiri atas sel-sel yang berukuran panjang ± 2 mm dan samping yang ujungnya runcing. Serat-serat sklerenkim merupakan sel-sel yang sudah mati. Dinding selnya mengalami penebalan dari zat kayu dan mengandung lamela-lamela selulosa sehingga lumen selnya sempit. Serat ini berbentuk poligon, yaitu segi lima atau segi enam. Noktah-noktahnya sempit yang berbentuk bagai saluran-saluran sempit miring. Serat-serat sklerenkim pada tumbuh-tumbuhan terbentuk bersamaan dengan saat-saat terhentinya pertumbuhan organ-organ pada tumbuhan.
Serat-serat sklerenkim terdapat dalam bentuk untaian yang terpisahpisah atau dalam bentuk lingkaran di dalam korteks dan floem, dalam kelompok-kelompok yang tersebar dalam xilem dan floem. Pada Gramineae, serat-serat sklerenkim tersusun dalam suatu sistem berbentuk lingkaran berlekuk-lekuk yang dihubungkan dengan epidermis. Untuk lebih jelas, perhatikan Gambar. Ada dua macam jenis serat sklerenkim, yaitu sebagai berikut. (Hidayat, 1995)
1.  Serat di Luar Xilem (Ekstraxilari) Serat ekstraxilari ada yang berlignin dan ada pula yang tidak. Serat ini dapat digunakan untuk membuat tali, karung goni, dan bahan dasar tekstil untuk pakaian.
2. Serat Xilem (Xilari)Jenis serat ini merupakan komponen utama kayu karena dindingnya mengandung lignin yang menyebabkan dindingnya keras dan kaku.
b)    Sel-Sel Batu (Sklereid)
Sklereid terdapat pada bagian tumbuhan, antara lain di dalam korteks, floem, buah, dan biji. Dinding sklereid tersusun atas selulosa yang mengandung zat lignin yang tebal dan keras. Pada beberapa tumbuhan, kadangkadang ditemukan pula zat suberin dan kutin. Sel-selnya mempunyai noktah yang sempit dan celahnya bundar, membentuk saluran yang disebut saluran noktah. Lumen sel sangat sempit karena adanya penebalan-penebalan dinding sel. Sklereid mungkin bisa dijumpai dalam bentuk tunggal atau kelompok kecil di antara sel-sel, misalnya butiran seperti pasir pada daging buah jambu biji atau suatu masa sinambung seperti pada tempurung kelapa yang keras. Untuk memahami struktur sel-sel batu ini.

b.      Letak jaringan sklerenkim
Jaringan sklerenkim terdiri atas sel-sel yang bersifat mati dan seluruh bagian dinding selnya mengalami penebalan. Letaknya adalah di bagian korteks, perisikel, serta di antara xilem dan floem. Jaringan sklerenkim pada bagian keras biji dan buah berupa sklereida. Sklereid juga terdapat di berbagai bagian tubuh. Sel – selnya membentuk jaringan yang keras, misalnya pada tempurung kelapa, kulit biji dan mesofil daun. Serabut berbentuk pita dengan anyaman menurut pola yang khas. Serabut sklerenkim banyak menyusun jaringan pengangkut.(Kurmana, 2008).
Sklerenkim ada dua jenis, yaitu berbentuk fiber (serat) misalnya rami, dan slereida pada kulit kacang atau kulit biji. Fungsi jaringan sklerenkim adalah sebagai alat penyokong dan pelindung.
Serat terdapat di berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan. Serat paling sering ditemukan diantara jaringan pembuluh. Menurut tempatnya dalam tubuh, dibedakan menjadi serat xilem dan ekstra xilem. Serat xilem merupakan bagian jaringan pembuluh dan berkembang dari prokambium, yakni jaringan yang menghasilkan jaringan pembuluh. Dua macam serat xilem dibedakan berdasarkan tebal dinding dan noktah adalah serat libriform dan serat trakeid. serat extra xilem dalam tumbuhan terdapat di luar xilem, misalnya ditemukan dalam korteks atau dalam floem sebagai bagian dari floem.

      Berdasarkan fungsinya, jaringan dibedakan menjadi:
a.       Jaringan pelindung
Jaringan pelindung berfungsi untuk menyelubungi permukaan tubuh, pada bagian tubuh primer berupa epidermis dan pada bagian yang telah mengalami pertumbuhan sekunder diganti oleh periderm yang tersusun oleh sel gabus. Jaringan epidermis terletak paling luar dan disusun oleh sel-sel hidup dengan dinding sel yang tipis dan terletak menutupi organ tumbuhan. Selain berfungsi sebagai pelindung jaringan di bawahnya yang lunak,epidermis juga berfungsi sebagai pencegah kehilangan air, penyimpanan air, penyerap air dan sebagai kelenjar (Soesilo,1986).
b.      Jaringan dasar atau parenkim
Jaringan Parenkim merupakan jaringan terbesar yang terdapat pada tumbuhan karena mengisi hampir sebagian besar jaringan di tubuh tumbuhan baik pada akar, batang, daun, biji maupun buah. Jika ditinjau secara filogenetis, jaringan parenkim dapat dianggap sebagai jaringan-jaringan pada tumbuhan yang susunannya merupakan pemula. Jadi sesuai dengan pengertian diatas yaitu jaringan parenkim merupakan jaringan dasar (Sutrian, 1992).
Jaringan parenkim merupakan jaringan yang paling umum dan belum berdiferensiasi. Kebanyakan karbohidrat non-struktural dan air disimpan oleh tanaman pada jaringan ini. Jaringan Parenkim biasanya memiliki dimensi panjang dan lebar yang sama (isodiametrik) dan protoplas aktif dibungkus oleh dinding sel primer dengan selulose yang tipis. Ruang interseluler antar sel umum terdapat pada parenkim. Nama lain dari jaringan parenkim adalah jaringan dasar. Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang mengandung klorofil disebut klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan dilakukan oleh jaringan parenkim.


Menurut Hidayat (1995), bentuknya parenkim dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut:
1.   Parenkim palisade, merupakan penyusun mesofil daun, kadang-kadang pada biji, dengan bentuk sel panjang, tegak dan mengandung banyak klorofil.
2. Parenkim bunga karang, penyusun mesofil daun, bentuk serta susunannya tidak teratur, ruang antar selnya relative besar.
3. Parenkim bintang(aktinenkim), bentuknya seperti bintang, saling bersambungan di ujungnya sehingga banyak mempunyai ruang antar sel.
4. Parenkim lipatan, dinding selnya mengadakan lipatan kea rah dalam serta banyak mengandung kloroplas, penyusun mesofil daun padi dan daun pinus.

c.       Jaringan pengangkut
jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri atas sel-sel xilem dan floem, yang membentuk berkas pengangkut (berkas vaskuler). Xilem berperan mengangkut air dan mineral dari dalam tanah ke daun, sedangkan floem berfungsi mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
1)            Xilem
Xilem merupakan jaringan kompleks karena tersusun dari beberapa tipe sel yang berbeda. Penyusun utamanya adalah trakeid dan trakea sebagai saluran pengangkut air dengan penebalan dinding sel yang cukup tebal sekaligus berfungsi sebagai penyokong. Xilem juga tersusun atas serabut, sklerenkim, serta sel-sel parenkim yang hidup dan berperan dalam berbagai kegiatan metabolisme sel. Xilem disebut juga sebagai pembuluh kayu yang membentuk kayu pada batang.
Trakeid dan trakea merupakan dua kelompok sel yang membangun pembuluh xilem. Kedua tipe sel berbentuk bulat panjang, berdinding sekunder dari lignin dan tidak mengandung kloroplas sehingga berupa sel mati. Perbedaan pokok antara keduanya, adalah pada trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-lubang), hanya ada celah (noktah), berupa plasmodesmata yang menghubungkan satu sel dengan sel lainnya.
Sedangkan pada trakea terdapat perforasi pada bagian ujung-ujung  selnya. Transpor air dan mineral pada trakea berlangsung melalui perforasi ini, sedangkan pada trakeid berlangsung lewat noktah (celah) antar sel selnya. Sel-sel pembentuk trakea tersusun sedemikian rupa sehingga merupakan deretan sel memanjang (ujung bertemu ujung) membentuk pipa panjang (kapiler). Bentuk penebalan pada dinding trakea dapat berupa cincin spiral, atau jala.
2)            Floem
Pada prinsipnya, floem merupakan jaringan parenkim.Tersusun atas beberapa tipe sel yang berbeda, yaitu buluh tapis, sel pengiring, parenkim, serabut, dan sklerenkim. Floem juga dikenal sebagai pembuluh tapis, yang membentuk kulit kayu pada batang. Unsur penyusun pembuluh floem terdiri atas dua bentuk, yaitu: sel tapis (sieve plate) berupa sel tunggal dan bentuknya memanjang dan buluh tapis (sieve tubes) yang serupa pipa. Dengan bentuk seperti ini pembuluh tapis dapat menyalurkan gula, asam amino serta hasil fotosintesis lainnya dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
d.             Jaringan penguat
Sistem jaringan penguat terdiri dari dua jaringan sederhana yaitu kolenkim dan sklerenkim. Kedua bentuk jaringan ini dapat berada tersebar di antara jaringan dasar, tetapi dapat pula mengelompok membentuk jaringan yang terpisah (Soesilo dkk. 1986 ).

e.              Jaringan kolenkim
Kolenkim terdiri dari sel – sel yang serupa dengan parenkim tapi dengan penebalan pada dinding sel primer disudut sudut sel tidak menyeluruh. Umumnya terletak pada bagian peripheral batang dan beberapa bagian daun. Dinding sel yang plastis dan fleksibel pada kolenkim member dukungan yang cukup untuk sel – sel tetangganya. Karena kolenkim jarang menghasilkan dinding sel sekunder, jaringan ini tampak sebagai sel – sel dengan penebalan dinding sel yang ekstensif. Hubungan erat antara jaringan kolenkim dan parenkim tampak pada batang dimana kedua jaringan ini terletak bersebelahan.
f.       Jaringan Sklerenkim
Jaringan Sklerenkim adalah jaringan pendukung / penguat pada tanaman. Penebalan lignin terletak pada dinding sel primer dan sekunder dan dinding menjadi sangat tebal. Hanya ada sedikit ruang untuk protoplas yang nantinya hilang jika sel dewasa (gambar jaringan sklerenkim). Sel – sel yang terdiri dari jaringan sklerenkim mungkin terbagi menjadi 2 tipe: serat (fibre) atau sklereid yang keras . Serat atau fibre biasanya memanjang dengan dinding berujung meruncing pada penampang membujur (longitudinal section; L.S.), sedangkan sklereid atau sel batu pada batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid. Sklereid terdapat pada organ tanaman yang biasanya keras baik buah dan biji.
g.      Jaringan gabus
Jaringan gabus tersusun dari sel-sel memipih yang mati tanpa ruang antar sel. Sel-sel tersebut dibatasi oleh lamela bahan berlemak, disebut suberin. Jaringan ini dihasilkan oleh cambium gabus atau felogen.yang pada batang kebanyakan tumbuhan, muncul dalam sel-sel korteks terluar, dan pada akar umumnya dibentuk dalam perisikel. Semua jaringan, dari kambium pembuluh keluar, membentuk pegagan sumbu.
h.      Jaringan sekretori
Tumbuhan mengeluarkan senyawa-senyawa dalam tubuhnya melalui jaringan sektori yang terbagi atas jaringan rekresi, ekskresi dan sekresi berdasarkan pada seberapa jauh senyawa yang dihasilkan jaringan itu telah memasuki proses metabolisme. Jaringan rekresi yang mpentinga adalah hidatoda yang merupakan struktur tempat mengeluarkan air. Letaknya diujung trakeid, dapat berupa bangunan sederhana atau berupa jaringan kompleks. Jaringan sekresi dapat berupa rambut kelenjar atau kelenjar. Senyawa yang dihasilkan bermacam senyawa organik.  Jaringan sekresi terdapat dalam berbagai bagian idioblas, sampai jaringan komplesks. Jaringan sekresi berbeda-beda ada yang berbuku-buku ada yang tidak.
Jaringan-jaringan tersebut diatas bersama jaringan yang lain membentuk bermacam-macam organ, diantaranya organ vegetatif. Organ tersebut terdiri dari daun, batang dan akar. Berikut penjelasan masing-masing organ vegetatif tersebut: (Hidayat, 1995).
1.         Akar
Akar merupakan organ tumbuhan yang penting karena berperan sebagai alat pencengkeram pada tanah atau penguat dan sebagai alat penyerap air. Akar memiliki bagian pelindung berupa tudung akar yang tidak dimiliki oleh organ lain. Berdasarkan asal terbentuknya, akar dapat dibedakan atas akar primer dan akar adventitif. Akar primer terbentuk dari bagian ujung embrio dan dari perisikel, sedangkan akar adventitif berkembang dari akar yang telah dewasa selain dari perisikel atau keluar dari organ lain seperti dari daun dan batang.
2.         Batang
Batang merupakan salah satu organ vegetatif pada tumbuhan. Pada tumbuhan dikotil, berkas pembuluh tersusun dalam suatu lingkaran sehingga korteks terdapat di bagian luar lingkaran dan empulur di bagian dalam lingkaran. Pada tumbuhan dikotil ini, xilem tersusun di bagian dalam lingkaran. Di antara floem dan xilem terdapat kambium yang menyebabkan pertumbuhan sekunder pada tumbuhan dikotil. Kambium merupakan jaringan meristem lateral yang berfungsi dalam pertumbuhan sekunder.

3.         Daun
Daun merupakan tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Pada daun, terdapat struktur morfologi yang berbeda pada setiap jenis tumbuhan berbeda-beda. Oleh karena itu, struktur morfologi daun dapat digunakan untuk mengklasifikasikan jenis-jenis tumbuhan. Struktur daun dapat dilihat dari: bentuk tulang daun, bangun daun atau bentuk helaian daun, tepi daun, bentuk ujung daun, bentuk pangkal daun, dan permukaan. Daun tidak hanya digunakan sebagai tempat fotosintesis, tetapi daun juga berfungsi untuk transpirasi (penguapan air) dan respirasi (pernapasan).





BAB  III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat
        Praktikum dilaksanakan pada hari jum’at, tanggal 13 Oktober  2017 pukul 14:40-16:20 WIB.Bertempat di laboratorium Terpadu Universitas PGRI  Palembang.

3.2. Alat dan Bahan
 3.2.1. Alat
          a. Mikroskop
b. Deck glass
 c. Objek glass       

 3.2.2. Bahan
a. Preparat  awetan kembang sepatu ( Hibiscus rosa sinensis)
b. Preparat  awetan daun jagung (Zea mays)
c. Preparat awetan darah ( Eritrosit )
d. Preparat  awetan usus 12 jari (Duodenum)
e. Preparat awetan kerongkongan (Esofagus)

3.2.3.      Cara Kerja
a.               Ambil lapiasan Preparat Awetan yang di gunakan
b.    Kemudian amati di mikroskop dengan tekan kecil kemudian  dengan
      tekan besar
c.                         Gambar dan beri keterangan



4.2 Pembahasan
Sel darah merah (eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak mempunyai inti. Ukuran diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak. Banyaknya kira–kira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan, karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen.
Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paru–paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru. Pengikatan oksigen dan karbon dioksida ini dikerjakan oleh hemoglobin yang telah bersenyawa dengan oksigen yang disebut oksihemoglobin (Hb + oksigen 4 Hb-oksigen) jadi oksigen diangkut dari seluruh tubuh sebagai oksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan akan dilepaskan: Hb-oksigen Hb + oksigen, dan seterusnya. Hb tadi akan bersenyawa dengan karbon dioksida dan disebut karbon dioksida hemoglobin (Hb + karbon dioksida Hb-karbon dioksida) yang mana karbon dioksida tersebut akan dikeluarkan di paru-paru.
Sel darah merah (eritrosit) diproduksi di dalam sumsum tulang merah, limpa dan hati. Proses pembentukannya dalam sumsum tulang melalui beberapa tahap. Mula-mula besar dan berisi nukleus dan tidak berisi hemoglobin kemudian dimuati hemoglobin dan akhirnya kehilangan nukleusnya dan siap diedarkan dalam sirkulasi darah yang kemudian akan beredar di dalam tubuh selama kebih kurang 114 – 115 hari, setelah itu akan mati. Hemoglobin yang keluar dari eritrosit yang mati akan terurai menjadi dua zat yaitu hematin yang mengandung Fe yang berguna untuk membuat eritrosit baru dan hemoglobin yaitu suatu zat yang terdapat didalam eritrisit yang berguna untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida.
Struktur dan Fungsi Kerongkongan (Esofagus) Manusia - Setelah makanan kita kunyah dalam mulut, makanan akan masuk menuju kerongkongan. Sebelum ke kerongkongan, pada pangkal tenggorokan (laring) terdapat bagian yang memiliki katup dinamakan epiglotis. Epiglotis berfungsi mengatur masuknya makanan dan udara ke dalam tubuh. Saat kita menelan makanan, laring bergerak ke atas sehingga tertutup oleh epiglotis dan tidak ada makanan yang masuk ke dalam batang tenggorokan (trakea). Namun, terkadang partikel kecil makanan atau air dapat masuk ke dalam laring atau trakea. Akibatnya, secara otomatis kita akan mengalami batuk atau tersedak. Kerongkongan merupakan organ yang berperan sebagai tempat jalannya makanan menuju lambung. Panjangnya sekitar 25 cm dan berbentuk tabung dengan diameter 2 cm. Dinding kerongkongan tersusun atas epitelium berlapis pipih.
Selain itu, pada kerongkongan terdapat pula beberapa otot, yakni otot melingkar dan otot longitudinal. Apabila otot tersebut berkontraksi, kerongkongan akan bergerak. Gerakan demikian disebut gerak peris taltik. Gerak peristaltik pada kerongkongan ialah gerakan mendorong dan meremas-remas makanan menuju lambung. Gerakan ini terdiri atas fase kontraksi dan relaksasi.
Anatomi daun dapat dibagi menjadi 3 bagian : Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis terdapatstoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan. Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan dari jaringan batang, terdapat di dalam tulang daun dan urat-urat daun. Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang.
Zea mays merupakan tumbuhan monokotil, maka struktur anatomi batangnya memiliki struktur batang monokotil. Pada preparat batang Zea mays terdapat epidermis yang letaknya ada pada lapisan terluar pada sel batang jagung, selain itu pada preparat Zea mays terdapat berkas pengangkut yang terletak pada lapisan tengah-tengah dari preparat Zea mays, selanjutnya ialah pada preparat tersebut juga terdapat korteks. Epidermis pada batang monokotil terdiri dari selapis sel, fungsi epidermis pada batang monokotil ialah untuk melindugi jaringan-jarigan yang ada didalam, selain itu fungsi epidermis ialah untuk menjaga agar tumbuhan tersebut tidak kehilangan air. Korteks batang Zea mays berukuran cukup luas, bagian dalam korteks utamanya terdiri dari parenkim dan beberapa lapis terdiri dari sklerenkim (tepat di bawah epidermis). Sklerenkim juga terdapat pada sekeliling berkas pengangkut. Sel sklerenkim memiliki fungsi untuk mendukung batang dan melindungi berkas pengangkut. Sel sklerenkim memiliki ukuran yang kecil, dan memiliki dinding sel yang kuat dan tebal. Dinding sel dipenuhi dengan lignin, maka dari itu dinding sel memiliki sifat kaku.
fungsi usus 12 jari
1. Membantu pencernaan makanan
Makanan yang masuk ke dalam perut akan di olah di usus 12 jari. Dalam pengolahan ini di maksudkan agar makanan bisa lebih lebih lembut dan halus. Kemudian di ambil sari patinya. Sedangkan bagian sisanya akan di lanjut kan sampai usus besar. Jika sudah tidak ada yang bisa di serap, akan di keluarkan pada anus dalam bentuk tinja.
2. Membantu penyerapan makanan
Makanan yang masuk ke dalam usus 12 jari bukan hanya di cerna saja. Namun juga di serap nutrisi dan gizi yang ada di dalamnya. Misalnya dalam telur terdapat asam amino yang merupakan bagian dari protein. Zat ini bisa bermanfaat untuk tubuh. Salah satunya adalah membantu mengganti sel yang rusak. Ada lagi nasi, sayuran, buah, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, pencernaan di usus 12 jari merupakan pencernaan yang penting dan harus di lakukan. Sebab makana bukan hanya di cerna, tapi juga di serap gizinya.
3. Menghasilkan enzim yang berguna dalam proses penyerapan
Sudah di jelaskan bahwa makanan yang masuk ke dalam usus 12 jari menjadi basa. Sebab ph atau derajat keasaaman pada bagian ini adalah 9. Mengapa? Hal ini berkaitan dengan proses pengolahan makanan. Dalam usus 12 jari terdapat beberapa enzim pencernaan yang hanya mampu untuk mengolah pada lingkungan basa. Misalnya adalah enzim enterokinase, enzim maltase, enzim lactase, enzim sukrase, enzim peptidase, enzim lipase usus, enzim erepsin atau dipeptidase, enzim disakrase dan enzim nuklease. Semuanya hanya bisa bekerja baik dalam kondisi basa. (baca : fungsi enzim lipase)
4. Saluran ke usus halus
Usus 12 jari merupakan saluran langsung dari lambung. Jadi makanan yang masuk dalam lambung terjadi pengolahan dengan derajat keasaman rendah. Hal ini berkaitan dengan kinerja enzim yang ada di lambung hanya bisa bekerja dalam lingkungan asam. Kemudian makanan akan masuk ke usus 12 jari setelah lolos dari sfinter. Kemudian setelah selesai pemrosesan dan pencernaan pada sistem ekskresi, makanan akan masuk ke saluran usus halus.
5. Terdapat mukosa otot
Pada bagian usus 12 jari ini terdapat lapisan lapisan tipis. Hal ini di gunakan usus untuk membentuk mukosa otot. Keberadaannya membantu dalam pengolahan makanan agar hasilnya lebih baik dan lebih bisa di cerna lebih lanjut.
6. Memiliki lendir yang bekerja spesifik
Makana yang masuk dalam usus 12 jari tidak akan mudah di cerna. Namun usus 12 jari ini memiliki lendir yang di hasilkan oleh kelenjar Brunner. Lendir ini membantu dalam pengolahan dan pelancaran makanan. Keberadaan lendir ini menjadikan makanan yang di olah semakin baik dan gizinya juga keluar.
7. Membantu penyerapan protein
Dalam usus 12 jari terdapat lipatan lipatan yang di namakan dengan jonjot jonjot usus. Di setiap jonjot tersebut terdapat sel kripta lieberkuhn. Dari sel tersebut mampu menghasilkan enzim enterokinase. Keberadaan enzim enterokinase mampu membantu mengaktivkan keberadaan enzim yang membantu dalam penyerapan protein. Enzim tersebut adalah tripsin. Tugasnya adalah mengubah protein menjadi asam amino.



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adpun kesimpulan yaitu Fungsi sel darah merah adalah mengikat oksigen dari paru–paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru. fungsi usus 12 jari Membantu pencernaan makanan. Membantu penyerapan makanan,  Menghasilkan enzim yang berguna dalam proses penyerapan, Saluran ke usus halus, Terdapat mukosa otot. Memiliki lendir yang bekerja spesifik, Membantu penyerapan protein Zea mays merupakan tumbuhan monokotil, maka struktur anatomi batangnya memiliki struktur batang monokotil. Pada preparat batang Zea mays terdapat epidermis yang letaknya ada pada lapisan terluar pada sel batang jagung. Struktur dan Fungsi Kerongkongan (Esofagus) Manusia - Setelah makanan kita kunyah dalam mulut, makanan akan masuk menuju kerongkongan. Sebelum ke kerongkongan, pada pangkal tenggorokan (laring) terdapat bagian yang memiliki katup dinamakan epiglotis.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat di samapaiakan yaitu agar setiap mahsiswa yang leakukan praktikum dapat medapat kan hasil pratikum dengan baik sebaiknya lakukan pencobaan dengan prosedur yang ada.




DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Estiti. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius Yogyakarta

Santoso, Woelaningsih dkk. 1987. Anatomi Tumbuhan. Jakarta: penerbit karnunika Jakarta Universitas Terbuka.

Tri Wahyu Agustina. 2010. Materi Pokok Ajar Anatomi Tumbuhan. Bandung: Pendidikan Biologi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar